Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2015

Indonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK

Baru-baru ini, Film Bollywood telah menghebohkan masyarakat Indonesia. Bukan saya belum tonton Film berjudul PK itu. Teman saya sudah memberikan File filmnya, lalu saya menghayati struktural narasi tiap cuplikannya dengan seksama, sendirian. Mungkin bagi sejumlah kalangan, oleh pembuat seknario Film, habis-habisan ditusuk hatinya karena ada yang berhubungan dengan ritual mereka. Bisa juga, mereka puas dan senang secara paham agama yang diyakininya.  Betapa hebat dan atraktifnya sebuah pandangan teologi yang sebenarnya manusia telah mampu memahami itu. Atau bahkan, sudah lama terbenak dalam diri, namun baru ngeh  usai disuguhkan melalui Film tersebut. Paham yang (mungkin) telah lama menggebu dalam pikiran, dengan bersahaja diekspresikan melalui karya kreatif dalam Film PK itu. Yaitu, Tuhan diciptakan, atau Tuhan Menciptakan? Aktor, Amir Khan, benarkah ia Muslim atau beridentitas lainnya? Apa bisa jadi, kita hanya meraba-raba bahwa 'Khan' sudah berarti Muslim. Entahlah, a...

KALIPOPO

Gambar
Di kediaman Wahyu Hidayat (baju warna kuning), Kendari 2013. Masih jelas pandanganku, di bawah lampu remang, di atas tikar alas tidurku tiap malam. Nampak di mataku sebelum terpejam, tumpukan buku yg sengaja tidak terbaca oleh pemiliknya. Di sebuah rumah sekelas para rantau, obrolan ilmiah yg kontras dgn tata ruang kos itu menamatkan malamku. Aku berada di sebuah dunia, penuh bangungan tua yg gagal jadi. Kakiku beralas sandal-sepatu. Di belakangku, belasan orang yg mengenakan pakaian sepertiku, hanya tas dan sepatu membedakan busana mereka denganku. Sementara, tepat di hadapanku, hanya jalan setapak yg kosong. Rambutku gondrong menyentuh bahu. Di tanganku hanya sebuah kulit domba dgn pena kuno. Baju kami didesign oleh seorang Janda tua, persis baju tempur yg dikenakan Adik angkat Thor dalam film THOR 2. Jumlah kami yg cukup untuk bertanding sepak bola, sebenarnya tengah bersiap berpacuh dgn ilmu pengetahuan. Meski tugas kami sebenarnya membunuh orang jahat. Ekspresi rekanku ...

Retorika Klasik Pengusaha Muda Buton

Kata siapa bergaul dengan orang yang putus sekolah itu hanya membuang banyak waktu. Jika memang ia tidak sekolah, dan ternyata ia beralih sebagai sosok Pengusaha yang ulet, nampaknya ucapan tersebut salah tulis. Bukan begitu? Kita bisa buktikan. Potensi kebaikan dan keburukan pada diri manusia, drivernya adalah dia sendiri. Jika ia cenderung ke positif, positiflah ia, jika ke ruang negatif, terperangkaplah ia bersama kekonyolannya. Sebagai Mahasiswa, selain bergulat dengan tugas kuliah dan disibukkan dengan tugas-tugas tak terduga lainnya, tidaklah mudah membinarkan bola mata saat memandang hasil UAS yang sungguh tidak begitu elok. Belum lagi digerutu oleh kegiatan organisasi yang tak ada duitnya (kata kaum pragmatis), namun mengasikkan. Pikiran bercabang, fokus-pun berantakan, hatipun senang (oh,,, tidak). Itu semua, sekalipun nilai masih bisa diperbaiki, bagi Saya merupakan legenda penghidupan yang tidak sia-sia. Sebenarnya, Saya ingin menulis Kisah mengenai teman-teman dan ...

DIMENSI: Aku dan Ombak

Gambar
Huluk, Laura (Rusmudin), Syukur, Fadlan. Gambar di atap Jonson (Motor Boat) Mahamu, Jembatan Batu, 2013. Di pinggir pulau Muna (Daratan Muna-Buton), sebuah kampung bernama Tolandona, desa yang memiliki tradisi dan lingkungan yang tengah dibelenggu oleh miras dan paham mitos. Masyarakat, terutama kaum Ibu, nyaris lupa bagaimana seorang anak harus dididik. Pun, sekolah dan orang tua seakan enggan untuk andil bersama membentuk karakter anak. Cara lingkungan mendidik anak telah semena-mena. Ketika Pejabat Desa welcome terhadap kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat dan apatis pada pemenuhan kebutuhan pendidikan serta perilaku anak. Ini jelas terlihat efeknya, misalnya, digelarnya acara joget massal sesering mungkin agar masyarakat terhibur. Padahal ini merupakan manivestasi penyakit. Belum lagi kita tahu, bahwa acara joget bukanlah bagian dari budaya Tolandona. Dibalik itu semua, ada semacam kesepakatan bahwa yang pantas dihargai pendapatnya adalah para preman dan orang tertua ya...