DIMENSI: Aku dan Ombak

Huluk, Laura (Rusmudin), Syukur, Fadlan. Gambar di atap Jonson (Motor Boat) Mahamu, Jembatan Batu, 2013.
Di pinggir pulau Muna (Daratan Muna-Buton), sebuah kampung bernama Tolandona, desa yang memiliki tradisi dan lingkungan yang tengah dibelenggu oleh miras dan paham mitos. Masyarakat, terutama kaum Ibu, nyaris lupa bagaimana seorang anak harus dididik. Pun, sekolah dan orang tua seakan enggan untuk andil bersama membentuk karakter anak. Cara lingkungan mendidik anak telah semena-mena. Ketika Pejabat Desa welcome terhadap kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat dan apatis pada pemenuhan kebutuhan pendidikan serta perilaku anak. Ini jelas terlihat efeknya, misalnya, digelarnya acara joget massal sesering mungkin agar masyarakat terhibur. Padahal ini merupakan manivestasi penyakit. Belum lagi kita tahu, bahwa acara joget bukanlah bagian dari budaya Tolandona.

Dibalik itu semua, ada semacam kesepakatan bahwa yang pantas dihargai pendapatnya adalah para preman dan orang tertua yang cenderung omong kosong. Artinya, manusia akademis, dianggap kurang tepat berdomisili di desa ini, sekalipun beberapa masih bertahan hingga saat ini dengan alasan tertentu. Pada tahun 1995 di Tolandona, tradisi baru yang telah menyimpang ini, saat itu masih dapat dibendung melalui kesadaran ilmiah orang tua. Sehingga, tidak sedikit saudara dan keluarga yang mampu mencapai prestasi di sekolah serta di luar sekolah. Namun, kini seakan Orangtua sepakat, bahwa tradisi baru seperti joget massal, merupakan jalur kesuksesan anak kelak.

Sebagai anak yang menikmati sekolah Taman Kanak-kannya di pantai dan kebun (bukan sekolah), cukup memberiku beberapa pandangan pola hidup antara teman-teman berekonomi lemah dengan kawan-kawan yang tanpa sadar bahwa orang tua mereka berupaya mencari nafkah demi masa depan pendidikannya. Namun, sangat disayangkan, dominasi wacana mitos dan paham jahiliah semakin mengancam masa depan generasi sebuah desa di Provinsi Sulawesi Tenggara yang akan menjadi daerah otonom baru ini. Sementara, Islam dan Buton menginginkan pemuda yang inovatif, agresif, dan produktif.

Sekalipun telah berbeda jadwal main dengan mereka, sebagai anak yang dulunya TK di pantai dan kebun, sepulang sekolah, dengan percaya diri, kuajak saja mereka yang tidak mampu sekolah ini untuk belajar mengaji di kediaman guru agama. Kesempatan emas, bersama belajar dari seorang guru Agama di SD N 1 Tolandona, menjadi baju percaya diri yang dikenakan mereka saat bergaul dengan kawan-kawan lain yang bersekolah. Tiap pulang sekolah, mereka tiga bersaudara, anak nelayan, telah menungguku dengan pakaian bekerak, tanda siap menimbah ilmu agama gratis dari seorang Guru yang mulia.

Selain mereka, tentu masih banyak anak-anak yang belum mendapat dukungan pendidikan yang pasti dari Orangtua dan Pemerintah. Saat kelas 6 SD, bertepatan dengan Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw, dengan polos dan bingung, entah apa artinya, saya ditunjuk sebagai Ketua Panitia tanpa pengalaman sedikitpun. Sebagai anak pedalaman yang kadang memakai sandal ke sekolah, jelas dituntun oleh para Guru untuk menyampaikan sambutan panitia. Belum lagi disibukkan dengan Lomba Bidang Studi tingkat Kecamatan, ini adalah awal dari longgarnya pertemuan rutin kami anak pantai ngapa ogena, bersama teman-teman yang selalu disebut buta huruf oleh kawan lainnya.

Maksud dari dorongan dan dukungan bagiku, bukan fokus pada materi saja. Dorongan secara moral lebih berpeluang menyadarkan anak daripada dukungan materi. Beribacara materi, itu adalah tugas wajib Pemerintah dan Orangtua. Namun, yang berhak membolak-balik hati manusia adalah Sang Pencipta. Spirit seorang anak kecil yang tertanam jauh dalam benteng baja di lubuk hatinya, dapat ditembus dengan kata-kata tertentu. Sebuah riwayat kaum bijak bahwa perkataan dapat menembus sesuatu yang tidak mempan oleh jarum. Ini terbukti pada kesuksesan beberapa orang melalui motivasi dari orang lain.

Pantas Rasul berpesan, "Barang siapa memiliki harta, sedekahlah (meberilah) dengan hartanya. Siapa yang berilmu, sedekahlah dengan ilmunya. Siapa yang mempunyai kekuatan, sedekahlah (berjuanglah) dengan kekuatannya". Sabda tersebut sejalin dengan ucapan John F. Kennedy, "Jangan minta sesuatu dari Negerimu. Tapi, mintalah pada yang kau miliki untuk engkau berikan pada Negerimu".

Perjalanan hijrahku, pada tahun 2002, meninggalkan kampung halaman untuk belajar di sekolah asrama Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid Baubau, menyisahkan kesedihan. Sekalipun sebenarnya hati bahagia, sebab tiga teman rumah, pantai, dan kebun yang selalu disebut buta huruf itu memberi kabar bahagia. Mereka selalu membuat hati terharu, jika mengatakan, “untung kami bisa baca qur’an, sekalipun putus sekolah”. Ucapan tersebut belum kudengar dari mulut mereka yang selalu menyumpahi sesamanya 'buta huruf'. Aku percaya, tidak ada yang sia-sia dunia, layaknya daun yang jatuh dari pohon, tak luput dari rencana Tuhan.

Detik itu, senyum beralasan terpancar dari wajah mereka, saat berjumpa waktu liburan. Sementara itu, hasil pancingan cumi yang sering dibawa ke rumah menjadi tanda bahwa cara bermain kami kini telah berevolusi.

Bersambung…  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK

EFEKTIVITAS PASAR DAN ORGANISASI EKSTERNAL DI KAMPUS

Namaku Ada di Buku Tamu: IKAMI Sulsel Jakarta