Indonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK
Baru-baru ini, Film Bollywood telah menghebohkan masyarakat Indonesia. Bukan saya belum tonton Film berjudul PK itu. Teman saya sudah memberikan File filmnya, lalu saya menghayati struktural narasi tiap cuplikannya dengan seksama, sendirian. Mungkin bagi sejumlah kalangan, oleh pembuat seknario Film, habis-habisan ditusuk hatinya karena ada yang berhubungan dengan ritual mereka. Bisa juga, mereka puas dan senang secara paham agama yang diyakininya.
Betapa hebat dan atraktifnya sebuah pandangan teologi yang sebenarnya manusia telah mampu memahami itu. Atau bahkan, sudah lama terbenak dalam diri, namun baru ngeh usai disuguhkan melalui Film tersebut. Paham yang (mungkin) telah lama menggebu dalam pikiran, dengan bersahaja diekspresikan melalui karya kreatif dalam Film PK itu. Yaitu, Tuhan diciptakan, atau Tuhan Menciptakan?
Betapa hebat dan atraktifnya sebuah pandangan teologi yang sebenarnya manusia telah mampu memahami itu. Atau bahkan, sudah lama terbenak dalam diri, namun baru ngeh usai disuguhkan melalui Film tersebut. Paham yang (mungkin) telah lama menggebu dalam pikiran, dengan bersahaja diekspresikan melalui karya kreatif dalam Film PK itu. Yaitu, Tuhan diciptakan, atau Tuhan Menciptakan?
Aktor, Amir Khan, benarkah ia Muslim atau beridentitas lainnya? Apa bisa jadi, kita hanya meraba-raba bahwa 'Khan' sudah berarti Muslim. Entahlah, apapun kepercayaan dan ibadah ritulgi Sutradara dan Aktornya itu yang jelas Film bergenre komedi tersebut sangat pantas dikaji oleh Negara Indonesia yang Pancasilais maupun Nasionalis. Sebab, banyak kaum Muslim Indonesia mengacungkan jempol pada Film tersebut. Namun, keragaman agama dan implementasi ritulginya pada Negara India belum tentu sama dengan yang terjadi di Indonesia. Sehingga, bisa saja ada pertimbangan tertentu dalam hal memahami kebebasan Produser dan Pemerintah India memunculkan Film tersebut dalam layar lebar.
Tidakkah kita bertanya, mengapa Indonesia akhirnya serempak menayangkan PK di sejumlah Bioskop? Hampir sepekan, setelah Film itu tayang, di tiap sosial media, muncul beberapa orang menulis tanggapan terhadap Film tersebut. Rata-rata pujian dan kekaguman tertuangkan. Teman Facebook sayapun menyarankan agar membaca sebuah buku yang pantas disandingkan dengan Film berdurasi hampir 2 jam tersebut. Entah buku tersebut pro atau kontra dengan film, saya belum dapat bukunya. Kemudian, di Kompasiana, ada semacam tulisan resensi tentang Film tersebut. Penulis menarasikan dengan pukau, mengantar pembaca memahami bagaimana komersialisasi agama dalam praktik liturgi di India dalam film PK tersebut.
Setiap kita, sekalipun memandang pesan dalam Film tersebut sama, tentu ada sedikit hal berbeda di sisi lainnya. Misalnya, mengenai pertanyaan bagaimana Indonesia menerima tayangan tersebut. Apakah sebenarnya kita sepakat terhadap praktik komersialisasi agama supaya dikecam karena merugikan masyarakat! Mungkinkah Negara Indonesia (Pemerintah) sepaham dengan Sutradara Film? Jelas ini sangat menarik. Sebab, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang menyamai paham agama layaknya dalam Film PK.
Dengan demikian, jika terjadi kajian, diskusi, atau dialog besar yang melibatkan masyarakat dan Pemerintah yang punya atensi agama, jelas sangat menarik. Ataukah Film tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada kritikan dan pujian secara akademis? Mungkinkah, ia diyakini hanyalah karya fiksi belaka dan apakah juga ia (Film) sebagai panggung komersialisasi agama itu sendiri? Tentu memerlukan kajian lebih lanjut bukan?
Percaya, film tersebut sampai hari ini telah menyita miliaran perhatian masyarakat khusunya pada kaum Muslimin (tidak dapat dipungkiri). Pertanyaan yang sering muncul dalam benak bahkan pada status jejaring sosial kita seperti BBM, Facebook, dll adalah; apakah kita di posisi ber-Tuhan yang Menciptakan (1), ataukah ber-Tuhan yang kita ciptakan sendiri (2). Jika yang kedua salah, apakah kita akan memaksa mereka yang membenarkan kedua untuk tunduk dan mengikuti yang pertama?
Menarik bukan...? Nontonlah lalu diskusikanlah dengan rekan, Guru, Dosen, Orangtua, Rektor, atau siapa saja yang Anda anggap perlu.
Silahkan dikomentari... ^__^
Silahkan dikomentari... ^__^
Yap. Harus didiskusikan memang. Hahahaha saya baru terarahkan pada pemikiran komersialisasi agama dari film itu.
BalasHapusThanks tulisannya:)
Terimakasih anisa kamelia. Saya terkejut melihat tulisan saya yang sangat amatir ini mendapat perhatian dari Ibu. Terimakasih atas komentarnya. :)
BalasHapus