KALIPOPO

Di kediaman Wahyu Hidayat (baju warna kuning), Kendari 2013.
Masih jelas pandanganku, di bawah lampu remang, di atas tikar alas tidurku tiap malam. Nampak di mataku sebelum terpejam, tumpukan buku yg sengaja tidak terbaca oleh pemiliknya. Di sebuah rumah sekelas para rantau, obrolan ilmiah yg kontras dgn tata ruang kos itu menamatkan malamku.
Aku berada di sebuah dunia, penuh bangungan tua yg gagal jadi. Kakiku beralas sandal-sepatu. Di belakangku, belasan orang yg mengenakan pakaian sepertiku, hanya tas dan sepatu membedakan busana mereka denganku. Sementara, tepat di hadapanku, hanya jalan setapak yg kosong.
Rambutku gondrong menyentuh bahu. Di tanganku hanya sebuah kulit domba dgn pena kuno. Baju kami didesign oleh seorang Janda tua, persis baju tempur yg dikenakan Adik angkat Thor dalam film THOR 2. Jumlah kami yg cukup untuk bertanding sepak bola, sebenarnya tengah bersiap berpacuh dgn ilmu pengetahuan. Meski tugas kami sebenarnya membunuh orang jahat.
Ekspresi rekanku saat menggantung pedangku di pinggangnya, seakan menaruh bayi diatas batu seukuran tubuh bayi itu, pelan. Tertawa sekedarnya, seperti tertuju untuk orang lemah yg menegaskan sebuah ketangguhan. Tiap detik kami membahas nyawa manusia yg tidak berharga, jika ia salah dalam berargumen soal masa depan negeri.
Aku disebut Ksatria Kalipopo. Menerangi malam para seperjuanganku dgn kesadaran rasa tertinggal. Dalam kurun waktu seminggu, kami dapat menciptakan buku ilmiah secara diam-diam. Sementara, tidak ada waktu belajar untuk menjelajahi hasrat manusiawi kami yg ilmiah, kecuali pertempuran maut telah berhenti di sore hari.
Suatu malam, kami hendak bergegas ke bangunan tua untuk mengkaji temuan baru. Tiba2, ada peristiwa yg cukup mengenyahkan sifat individual seseorang. Bagai kilat, menerjang, tendangan John Albab menyingkirkan adiknya sejauh dua meter dari tempatnya berdiri. Mir Bunton, terjerembab di atas tanah, lalu bangkit setelah merapikan kertas2 dari buku ciptaannya yg berserakan.
Albab adalah nomor dua setelahku. Walau menurutku, dialah yg pantas di posisiku. Mengenai problem dgn Bunton, adik kandungnya, Ia telah memastikan bahwa adik satu2nya tersebut telah mengukir tabiat buruk. Menurut tradisi kami, tak ada sedikitpun perbedaan hak, jika ingin menghibur jiwa. Betapa malunya sang Kakak, ketika Adik hanya mengajak org tertentu, berulang2 menikmati hasil kebun warisan Ayah mereka. Buah Anggur yg segar, tdk sembarang dinikmati kecuali mendapat jamuan khusus oleh pemiliknya.
Sebab, ini adalah pekerti yg tak terpuji. Tradisi kami menyepakati org seperti Bunton pantas dihukum seberat mungkin. Sekalipun cambukan melukai tubuhnya, belumlah menebus perbuatannya yg pilih kasih. Seorang Kakak, ingin adiknya terlatih sisi attitudnya, terbuka ruang tenggang rasanya, serta konsisten sifat kesedrhanaanya. Tidak membedakan siapa yg harus diajaknya.
Pedang kembar warisan Mendiang Ayahnya, satunya digenggaman Bunton, direbut oleh kakak, ditancapkan pada sebuah batu di atas gunung paling tinggi. Bunton baru boleh mencabutnya setelah melewati ujian dan rintangan tak terduga di kaki gunung. Itulah sanksi dsri perilaku piliha kasih Bunton. Bentuk sanksi tersebut pernah diterapkan ayah mereka. Aku, pewaris Raja setelah Quenon Enrique, Ayah Alabab, makin mantap untuk menyerahkan mahkota kerajaan kepada mereka berdua.
Di tengah malam, kurenungkan dan memantapkan keputusan yg akan menuai kontrofersi. Sebab, tidak semudah itu menyerahkan tahta kerajaan. Namun, sifat interest John Albab terhadap sesama membuat hatiku mendahului tanganku memindahkan mahkota ini. Dialah, Albablah Kalipopo sejati, Kalipopo Mainawa (Bintang yg Benderang).
...Tiba-tiba, suara dari kejauhan seperti memanggil namaku, Avi,,,. Semakin dekat, suaranya semakin besar, Avi,,, Avi,,, AAAVI,,,!!!. Terkejut dan mataku terbuka, disambut suara Azan dari Mushallah dekat Rumah kos. Sementara, Buku tak bersampul telah enyah dari tanganku. Aku bukan Avi, itu namaku di alam lain. Antara mimpi dan Imaji.

Telah diposting di Facebook...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK

EFEKTIVITAS PASAR DAN ORGANISASI EKSTERNAL DI KAMPUS

Namaku Ada di Buku Tamu: IKAMI Sulsel Jakarta