Retorika Klasik Pengusaha Muda Buton
Kata siapa bergaul dengan orang yang putus sekolah itu hanya membuang banyak waktu. Jika
memang ia tidak sekolah, dan ternyata ia beralih sebagai sosok Pengusaha yang ulet,
nampaknya ucapan tersebut salah tulis. Bukan begitu? Kita bisa buktikan. Potensi
kebaikan dan keburukan pada diri manusia, drivernya adalah dia sendiri. Jika ia
cenderung ke positif, positiflah ia, jika ke ruang negatif, terperangkaplah ia
bersama kekonyolannya.
Sebagai Mahasiswa, selain bergulat dengan
tugas kuliah dan disibukkan dengan tugas-tugas tak terduga lainnya, tidaklah
mudah membinarkan bola mata saat memandang hasil UAS yang sungguh tidak begitu elok. Belum lagi
digerutu oleh kegiatan organisasi yang tak ada duitnya (kata kaum
pragmatis), namun mengasikkan. Pikiran bercabang, fokus-pun berantakan, hatipun senang (oh,,,
tidak). Itu semua, sekalipun nilai masih bisa diperbaiki, bagi Saya merupakan
legenda penghidupan yang tidak sia-sia.
Sebenarnya, Saya ingin menulis Kisah mengenai
teman-teman dan para Pedagang, yang tak sengaja dipertemukan dalam momentum pelepasan
penat di Kebun Kacang, Tana Abang. Tentunya, ini pada waktu liburan. Meskipun
ada beberapa teman yang kurang enggan menuju Tana Abang sebagai asisten dadakan
dalam urusan belanja barang dagangan. Kadang mendapat mandat langsung dari
keluarga, kadang pula mandat asisten musiman ini dinobatkan oleh teman akrab
sendiri yang telah menjadiPedagang. Di situlah petualngan mahasiswa dimulai di
pasar.Namun, Saya hanya meminjam beberapa retorika dari panggung perjuangan mereka.
Ada apa di Tana Abang? Mengapa kami suka ke sana? Saya ingin memeberitahu bahwa, terselip kehidupan menarik di Pasar Populer ini. Selain menghibur diri dengan baju baru yang sekai-sekali kami beli untuk menghibur hati, pemandangan Pasar 12 lantai yang merakyat ini juga mempengaruhi insting bisnis kami. Ada banyak pengalaman dan pelajaran yang tak terduga di sana. Sebagai manusia akademis, tentu berbeda segi pengalaman dengan mereka yang ulet nan tangguh menerjang kehidupan sebagai seorang Pedagang. Pedagang yang hanya mendapat dua hal, yaitu untung dan rugi.
Sore itu, saya hendak berjumpa dengan kawan
satu almamater dari Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid Baubau yang sedang datang belanja barang dagang. Di sana, adik kelas
Saya yang juga kuliah di UIN Jakarta, sudah sehari menemaninya keliling Blok pasar untuk belanja. Di lantai 3 Blok A, mendapati mereka dengan sejumlah kantong plastik
di masing-masing kedua tangan mereka (adik kelas, dan kawan almamater) kemudian memulai percakapan dengan salaman tangan yang hangat.
Tidak lama usai kami berkeliling, sambil ngobrol mengenai kampung tercinta, ada
seorang kawan muncul dari arah lain dan menegur kami. Saya telah bertemu dengan dia
sebelumnya. Ini kali kedua saya berjumpa, sepertinya Tuhan telah menunjukkan kuasa
RejekiNya kepada hambaNya yang satu ini. Betapa tidak, dengan gaya yang
sederhana, namun usaha dagang miliknya ternyata telah pesat berkembang. Di
sebuah Kota kecil, Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara, seorang yang umurnya di
bawah Saya, telah membuktikan rasa yakinnya akan Kuasa Allah Swt. Dia telah cerita banyak hal dengan dialetika Buton selama berkeliling dari Blok ke Blok Pasar.
Perjumpaan tahun
lalu, ia berbagi nasehat pengalaman bahwa jika berbohong dalam berdagang, belanja, maupun
mengurangi dengan sengaja ongkos kapal pengiriman barang atau transportasi
pribadi, niscaya ada saja musibah yang akan tiba. Cerita tersebut awal perkenalan Saya
dengan Pemuda lincah itu.
Ucapan ia tahun lalu,dengan intonasi yang
mengesankan seorang Pedagang Pemula, sebelum ia mengakui bahwa perjuangannya
adalah ekspresi dari pembuktiannya terhadap impian. Ia memastikan juga, bagaimana menikmati
kesuksesan bekerja tanpa bantuan Orangtua sepersen-pun. Mungkin, menikah muda salah
satu faktor yang mendorong ia melatih kemampuannya yang terus meningkat. Sehingga, saat ini di mata
Saya, kemampuan dan ilmu dagangnya telah melibihi umurnya. Dia masih muda,
berjiwa muda, semangat muda, seorang Boss muda yang belanja sendiri ke Jakarta tanpa selalu menyuruh bawahannya.
“Saya diam saja,kalau ada pedagang yang menyebut dirinya di hadapan saya, sudah beginilah, gitulah, lebih sukseslah. Tapi saya tidak lupa, dia harus ingat, bahwa saya masih muda sementara dia sudah umur tua”, pungkasnya sambil menempelkan tangan ke dada.
“Saya diam saja,kalau ada pedagang yang menyebut dirinya di hadapan saya, sudah beginilah, gitulah, lebih sukseslah. Tapi saya tidak lupa, dia harus ingat, bahwa saya masih muda sementara dia sudah umur tua”, pungkasnya sambil menempelkan tangan ke dada.
Bukan sosok dirinya, namun, genangan semangat
juang sebagai Pengusaha Muda yang tanpa sadar memercikannya melalui kisah. Entah dia
berbangga, rendah hati, atau apalah orang menilai tentang ia, bagi saya banyak
hal yang bisa dipelajari dari historis singkat hidupnya saat itu, mungkin yang
juga di masa mendatang.
Bos Muda ini akui, ia mengagumi kepandaian
bahasa Arab santri kecil dari Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, Bataraguru. Saat
itu, ia mendengar percakapan bahasa Qur’an itu tepat di dalam Tokonya. Kedua
Santri tersebut hendak membeli kain untuk membuat celana sesuai disiplin yang
berlaku di Pesantren. Tanpa menyadari, kedua santri tersebut telah membuat hati
Pemilik Toko itu terasa damai, terhibur oleh kelincahan bahasa yang menurutnya tidak muda diucap lidah. Ia mengekspresikan senangnya dengan
(mungkin) dua meter bahan kain celana secara cuma-cuma diberikan kepada santri
tersebut.
Saya langsung menanggapi ceritanya dengan santri yang dulu-pun Saya juga pernah nyantri.
Kukatakan bahwa, Kau (Pedagang) telah menyenangkan hati para Syuhada yang
menuntut ilmu di tempat yang jauh dari pandangan mata Orangtua. Kau telah
memudahkan urusan anak saleh di pesantren yang tidak memiliki jam tidur siang,
sebab dipenuhi oleh pelajaran tambahan setalah makan siang. Kau telah menghibur
para santri yang tengah menyiapkan diri guna membangun Bangsa dan Agama yang
baik. Ia mendengarkan seksama, terdiam, mulutnya sedikit menganga.
Sebelum ia mengalami momen yang mengesankan
dengan kedua santri tersebut, ada peristiwa yang sangat menyayangkan, lanjutnya. Semacam
menasehati dirinya, ia menegaskan bahwa jangan sekali-kali memaksakan diri
untuk menagih utang siapapun yang berutang denganmu. Biarkanlah mereka
membayar sendiri. Jika waktunya telah kalian sepakati dan tentukan, janganlah terlihat
mendesak-desak mereka. Begitupun bagi si pengutang, jika Kau berutang, jangan sekali-kali
tidak terbenak untuk melunasinya. “Ingat, Tuhan tidak tidur”, katanya seolah
mengibah pada seseorang.
Rupanya, ada seorang yang berutang jutaan
kepadanya. Namun, si pengutang tidak lagi mengakui sisah utangnya yang masih
dalam hitungan jutaan. Pengusaha Muda ini tidak memaksakannya untuk dilunasi, sebab ia ibah atas kondisi keluarganya. Sangat disayangkan,
berbagai musibah menimpah keluarga si pengutang. Pedagang ulet tersebut, juga mempunyai tiga anak (berkeluarga), meyakini bahwa peristiwa itu merupakan
hikmah kehidupan dan sekali waktu, bisa jadi posisi itu berbalik. Ia juga
menegaskan, supaya selalu jujur dan adil dalam perniagaan. Entah dia
paham metode Perdangan Muhammad Saw atau tidak. Pun, Saya tidak perlu
menyebutkan nama pengutang juga tidak berhak menyebutkan nominal harta dan
omset bulanan Bos Muda ini. Sebab, tentu masih banyak yang melebihinya di Buton sana.
Realitas kisahnya diakui
oleh kawan se-almamater Saya juga sebagai teman ia berdagang. "Betapa sayangnya
diri ini jika hanya menyianyiakan kesempatan hidup yang ada", katanya. Sementara
Tuhan tidak tidur, kita-pun juga harus memanfaatkan masa muda. Relevan dengan
ucapan Sang Pemilik Toko itu, setelah ia mendengar coletehan ibah dari mulut
Saya mengenai Bapak yang masih sehat fisiknya juga belum sangat tua usianya
bersama anak gadisnya yang sangat vocal, duduk meminta-minta. Rasa kasihan
Saya ditepis habis-habisan olehnya, “Makanya, saat muda inilah waktu bekerja.
Jangan malas di waktu muda, cari kerja di waktu tua itu sulit bro…”, tegasnya.
Mungkin itu benar, apalagi zaman sekarang
yang serba membutuhkan manusia berijazah sekolah dalam ranah kerja modern. Kecuali mereka
mau berjuang keras menjadi Pedagang Ulet dan Pengusaha berani. Dari tanah
Uncume, asal seorang Pengusaha Muda ini, mengatakan, jika tidak berpendidikan
dan tidak mau usaha, apa jadinya hidup kita. “Di samping sekolah, carilah
kerja sampingan”, tambahnya lagi. Bagi Saya, kerja sampingan itu penting, sepakat dengan Pengusaha Muda itu.
Paling tidak, bermanfaatlah untuk orang banyak sesuai kemampuan yang dimiliki.
Sekali lagi, ini bukan soal Pengusaha atau
Pemalas. Tapi ini, soal Kemanusiaan yang beradab. Pada siapapun kita bisa
belajar. Seperti dalam Kabanti Bula
Malino, Idrus mengatakan, “sekalipun kita bisa saja belajar dari orang
gila”.
Komentar
Posting Komentar