Happy Wedding Sahabat

برك الله لكما و برك عليكما و جمع بينكما في خير

Teringat tahun lalu 2016 di atas sepedamotor dinas Suharmanlandele. Kau menceritakan semuanya tentang niat sucimu yang sudah tiba saatnya ini (Akad, 6 September 2017), saudaraku. Perjalan dari Lakudo-Wamengkoli-Baubau usai pagelaran Seni Budaya Islam oleh IKPS, kau melarangku ikut bersama Razak Fine naik angkutan umum dan memaksaku ikut bersamamu meski kita sama-sama menyadari berat badan kita cukup menyiksa sepedamotor yang akan kita tumpangi. Namun, karena engkau ingin menyampaikan hal serius saat itu, mau tidak mau saya ladeni walau sepeda motor harus menangis minta ampun.

Sepanjang jalan menelusuri rute, dengan sengaja kau pelankan kendaraan, lalu memulai cerita satu persatu tentang impianmu di masa depan. Sebagai teman yang kadang menjengkelkan ini, dengan mersa terhormat, sayapun menyimak dan adakalanya memberi saran sesuai arah kisahmu. Menanggapi tiap penggalan ceritamu dgn senang hati serta mendengar banyak problematika yg bisa kau atasi dalam hidupmu dan kau menjelaskan solusi penyelesaiannya kepadaku.

Roda sepedamotorpun terus melaju perlahan. Bunyi kerikil dan batu kecil yg terlindas oleh ban kendaraan kita di atas jalan poros yang rusak parah, menjadi instrumen obrolan yang begitu hangat. Goyangan kendaran seperti ombak akibat jalan berlubang nan tak terurus bertahun-tahun lamanya itu, seirama dengan suara-suara klakson-sapaan kendaraan lain yang lalu-lalang. Sambil tertawa bahagia, kita terus menelusuri jalan-aspal jelek secara perlahan, seolah kita sedang duduk di warung kopi klasik sambil berdiskusi banyak hal.

Yang paling saya ingat, saat tiba-tiba kau semakin mengurangi lajunya kendaraan. Spontan pikirku mungkin karena ban motor bermasalah atau kehabisan bahan bakar. Ternyata, lambat kendaraan itu disebabkan lanjutan ceritamu yang sdh semakin serius. Yap, kau mulai membahas rencana pernikahanmu saat itu, sebab itulah kita semakin pelan dan ada peluang besar bagi kita dapat dimaafkan oleh sepeda motor yg kita naiki.

Penuh optimis dan kewibawaan, kau jelaskan apa yg telah disiapkan dan akan dipersiapkan hingga hari H pernikahanmu. Perlahan senyuman di wajahmu saat itu menjadi kerutan, seolah mengekspresikan keseriusan lanjutan curhatanmu. Secara rinci dan tanpa ditutup-tutupi, kau share semua planing menuju hari pernikahanmu ke saya. Sayapun menginterpretasi kerutan-serius wajahmu itu sebagai pemuda sejati yang gigih dan bertanggungjawab. Masih banyak lagi pelajaran berharga secara singkat saya transfer di atas sepedamotor yang tidak mungkin dipublish tanpa izinmu di sini, kawan.

Pun di atas kapal Ferry, menanggapi schedule akad dan resepsi pernikahanmu, dengan bangga saya menyatakan supaya hadir di moment sucimu ini. Saudaraku, dengan gampangnya mulut ini bilang, syaya akan berupaya duduk di salah satu kursi undangan pernikahanmu 9 September 2017 ini. Bahkan sudah kusiapkan lagu khusus sebagai bentuk kegembiranku di hari bahagiamu. Tapi, apalah dayaku teman, hari ini justru saya tidak mendapat keberuntungan dari Allah SWT untuk melepas senyuman indah dan memberi selamat secara langsung kepadamu dan pasanganmu di pelaminan. Maafkan daku saudara seperjuangan.

Mewakili almuni angkatan kita 2008 Pondok Pesantren Modern Al-Syaikh Abdul Wahid, mengucapkan selamat Syech Zainuddin Ahmad atas Pernikahanmu hari ini. Sakinah Mawaddah dan Rahmah InsyaAllah.
Senayan, 6 September 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK

EFEKTIVITAS PASAR DAN ORGANISASI EKSTERNAL DI KAMPUS

Namaku Ada di Buku Tamu: IKAMI Sulsel Jakarta