Namaku Ada di Buku Tamu: IKAMI Sulsel Jakarta
Bagiku, tidak ada keraguan untuk memenuhi undangan Organisasi Primordial. Sebab, ada saja informasi terupdate dan ragam vitamin spirit didapatkan dari momen itu. Selain mengenal kebudayaan daerah lain, kita juga bisa menambah teman baru. Tapi ingat, tidak mudah menemukan teman wanita baru dari acara seperti itu bila tidak didukung dengan komunikasi yang tepat. Jika salah cara maka suasana akan fakum. Kalau bidikanmu adalah wanita, cara kelirumu akan buat mereka jengkel dan semua rencana suci akan berantakan. Sebetulnya, anda bukan kesulitan memulai dialog dengan perempuan yang hendak dikenal. Tapi, ada kekuatan pada diri anda yang belum anda sadari. Apa itu?
***
Pada tanggal 22 Januari 2017, Ikatan Keluarga Mahasiswa Indonesia (Ikami) Sulawesi Selatan mengadakan Acara Pelantikan Ketua dan Pengurus Cabang Ciputat-Tangsel. Organisasi kedaerahan di perantauan ini memang selalu agresif berkomunikasi dengan sesama organisasi primordial lainnya. Pada agenda penting seperti itu, Ikami Sulsel terus berusaha menghadirkan setiap Pimpinan dari Organisasi Provinsi lainnya. Saat itu, aku menjadi delegasi dari Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia Buton (HIPPMIB) Bersatu-Jakarta turut hadir dengan bangga.
Usai menyimak sepanjang jalannya agenda, akupun makin terpukau akan solidaritas yang diekspresikan beragam suku di Provinsi Sulsel itu. Kekeluargaan yang kuat berawal dari sikap leluhur yang masyarakat menyebutnya "sirri". Makna kata tersebut adalah saling care satu sama lain. Artinya, jika ada orang Sulsel kesusahan di tanah rantau, maka wajib untuk saling membantu secara adat. Ekspresi makna dari kata tersebut sampai pada impian besar yaitu melahirkan Jusuf Kalla selanjutnya. Menurut mereka, Tokoh Sulawesi Selatan memang sangat banyak, namun tidak kuat secara utuh layaknya Wakil Presiden Jokowidodo itu. Itulah alasan mengapa mereka secara kebhinekaan tampak serius membentuk tatanan khusus secara tegas untuk keutuhan NKRI.
![]() |
| Photo by Ikami Sulsel |
Eits, tunggu dulu, aku bukan membahas soal organisasi loh. Mari kita kembali ke topik bagaimana memulai komunikasi yang cair dengan orang baru? Perlu diketahui, aku bukanlah Dosen yang paham berjuta teori mengenai hal itu. Bahkan, sejumlah teori dari buku-buku komunikasi yang recommended tidak juga berhasil ketika coba kurealisasikan. Karena itu, aku akan mendeskripsikan saja bagaimana pola yang terjadi saat hendak ingin mengenal orang lain saat itu juga.
Saat itu, di acara Pelantikan Pengurus Ikami Sulsel. Berikut kisahnya.
"Silakan masuk kanda!!!".
Kata lelaki penjaga pintu mengenakan songkok Bugis di kepalanya, mungkin panitia.
Kemudian Aku masuk ke aula serbaguna salah satu kampus di Tangsel dimana acara tersebut diselenggarakan. Setelah melewati pintu, tepat bagian kanan pintu, ada meja di atasnya terdapat dua buku tamu beserta penanya dan tampak dua orang gadis berbusana adat melayani setiap tamu untuk registrasi.
Kemudian Aku masuk ke aula serbaguna salah satu kampus di Tangsel dimana acara tersebut diselenggarakan. Setelah melewati pintu, tepat bagian kanan pintu, ada meja di atasnya terdapat dua buku tamu beserta penanya dan tampak dua orang gadis berbusana adat melayani setiap tamu untuk registrasi.
Tanpa menatap wajah kedua gadis itu, ya, tanpa menatap, aku ajak teman sedaerah untuk segera menulis nama ke buku tamu. Masing-masing gadis memegang satu buku tamu. Dan, aku masih belum memandangi wajah kedua gadis itu, sebab spontan file-file adegan romantis dari semua Film Shah Rukh Khan seketika muncul di benak. Pertanda siap mengimplementasikan ilmu dari film-film tersebut.
Sejurus kemudian, aku mulai tulis nama (LA ODE CHUSNUL HULUK). Seakan pena (alat tulis) paham betul situasi yang terjadi, tintanya agak macet saat menulis huruf A setelah huruf L. Berulang kutekan untuk mematiskan tintanya masih ada. Tetap saja sulit tanganku bergerak menulis huruf sebelum O itu. Bagian ini aku belum memandang wajah gadis itu (masih dalam skenario). Karena itulah, perempuan di hadapanku mulai merespon ajakan dialogku secara nonverbal itu.
"Kenapa ki Kak? Macet penanya?".
Waaah, suaranya merdu pakai logat Sulsel. Menurutku, saat itulah waktu yang pas untuk memandang wajahnya. Tepat pada kedua mata cokelatnya yang natural dan senyumannya yang begitu syar'i akupun terbata menjawab.
"Saya nerveous kodong. Lihat saja tintanya, sampe macet begini".
Mendengar suara pertamaku dari pandangan awal itu, entah mengapa wanita di hadapanku sekitar 50 Cm itu langsung menunjukkan gelagak friendly. Seterusnya ia mulai meresponku dengan guyonan, seakan memahami jurus-jurusku yang amatir.
"Mungkin gara-gara capek naik tangga sampai lantai ke 5 tadi kak. Makanya gerogi!". Gadis itu menebak.
Ketahuilah pembaca sekalian, Dalam dialog seperti inilah seni komunikasi mulai teruji. Lalu aku menerangkan lagi,
"Padahal saya ke lantai 5 ini pakai lif loh".
Dengan senyuman lebar, segera gadis itu menangkap tujuan dialog ini kuawali, kemudian dan ia melanjutkan lagi.
"Kan ndak ada lif di sini kak".
Penegasan cerdik gadis itu nyaris membuatku kalah telak. Sesegera mungkin kutemukan dialog lain, agar tetap tampak natural dan pastikan ini memang bukan niat untuk menggombal. Akhirnya aku bertanya perihal busana yang mereka kenakan.
"Baju adat daerah mana ini?". Tanyaku.
Lalu jawab gadis itu dgn gembira,
"Adat Bugis kak".
Sebelum ia menuntaskan kata 'Bugisnya', aku langsung mengulurkan tangan seraya mengucap,
"wow, pas betul. Kenalkan saya dari Buton, namaku sudah ada di Daftar Tamu nah, dan saya kebetulan ndak bawa HP ku".
Lalu gadis di hadapanku menyebut juga namanya dan terlihat tampak ingin membisikkan sesuatu, tapi temannya menyambar perkenalanku,
"Kak, saya Wisna, adiknya Kak Awaluddin Jene".
Sambil mengulurkan tangan dengan wajah termanisnya. Akupun memberi tangan kaku ini untuk ia jabat.
"Waah, okay! Keduanya sama2 manis. Allahuakbar!!!", gumamku.
Tak terasa, antrian tamu yang ingin registrasi sudah panjang. Akhirnya kutinggalkan sejenak antrian. Kemudian, saat keadaan mulai memungkinkan, kuajak dua gadis tersebut untuk mengabadikan pertemuan mengesankan itu. Agar tdk terjadi harapan segitiga di antara mereka, sekalian saja kami difoto bertiga.
![]() |
| Taken By Yudhi Asfar |
Demikianlah ceritanya. Semoga jelas serta ada peluang yang ditangkap dari dialog singkat di atas. Kesimpulannya: Jangan sekali-kali menggunakan komunikasi verbal-agresif seperti yang digunakan Donald Trump pada 20 Duta Besar yg ia pecat. Sementara engkau sedang berdialog dgn wanita-wanita salehah, pakailah bahasa yang jujur.
Hubungan dari dua bangunan cerita di atas yaitu antara Eksistensi Organisasi dan Teman baru adalah semata-mata untuk kepentingan komunikasi. Tujuannya agar terjadi silaturrahmi yang cair dan tidak menegangkan. Bercanda dalam koridor kema'rufan tetaplah selalu aku jaga. Aku selalu berupaya membentuk diri agar tidak membosankan bagi orang lain.
Ciputat, 22 Januari 2017


Komentar
Posting Komentar