Berpikir Sebelum Bertindak

Dalam buku Psikologi Kematian (Hidayat, Komaruddin...) menegaskan bahwa membaca dan menjadi manusia berilmu itu memilik efek tertentu dalam diri. Ilmu dan pendidikan yang dijalani sejatinya membuat diri kita semakin bijaksana dan mengurangi sifat arogan. Bahkan, orang sepuh yang berilmu dominan terlihat segar seakan ilmunya menutupi dan menunda ketuaannya. Lalu, apakah sama orang yang berilmu dan yang tidak berilmu?

Di kampung Desa Tolandona, tetangga saya seorang nelayan tua bernama Hamudi. Nasib pendidikan anak-anaknya tidak seperti kebanyakan orang. Bahkan, dia sendiripun tidak berpendidikan. Beberapa kali dia melewatkan info penting mengenai distribusi bantuan pemerintah kepada nelayan. Selalu saja dia tidak dapat jatah dari porgram tersebut. Namun, dia menyadari bahwa dirinya tidak berpendidikan dan bukan levelnya untuk mengkritisi itu. Sehingga, kepincangan pembagian bantuan nelayan tersebut sama sekali tidak mengubah keharmonisa rumah tangganya.

Tentu masih banyak nelayan tulen bernasib seperti Hamudi. Mereka hanya diam menyaksikan kegembiraan orang-orang yang masuk dalam daftar nama pendistribusian bantuan pemerintah untuk para nelayan. Meski diakui tidak merata, mereka tidak berani menyalahkan pemerintah. Saya menilai bahwa sikap ini adalah yang ditanamkan sehari-hari dimana mereka lebih sadar diri karena tidak memililki kapasitas ilmu dan bukan golongan akademis untuk mendebati itu.

Tapi, ketika masyarakat mengalami krisis ikan, para nelayan-nelayan inilah yang kadang menjadi penyelamat masyarakat. Bukan berarti pemasok ikan minim. Tapi, mereka selalu memberi kejutan, tanpa melalui pendidikan Ilmu Mencari Ikan dan manfaatnya sangat dirasakan masyarakat. Saya terus bertanya-tanya, mengapa ketika ada ketimpangan dalam distribusi bantuan nelayan mereka cenderung diam. Jangan-jangan mereka paham bahwa ketidakadilan pemerintah tersebut bukanlah seperti ilmu mencari ikan yang mana mereka bisa aduh argumen dan mengkiritisinya. Lagi-lagi, mereka hanya diam tanpa wajah geram.

Sungguh Bpk Hamudi telah mengajarkan saya bahwa berargumen tanpa landasan akademis itu sangat memalukan. Apalagi dengan bangga mengatakan, "kami ini hanya tau megang tali pancing,  tolong jangan tindas kami". Tapi, Hamudi percaya bahwa ada banyak hamparan rejeki di jagat semesta ini. Hamudi juga senatiasa mengeskpresikan ilmu 'keep silent' terhadap argumentasi dan opini seseorang yg di luar bidang akademis kita. Seorang nelayan tulen ini menegaskan cara menyikapi perdebatan tanpa arogan.

Manusia memilih pendidikan formal atau nonformal, masing-masing punya landasannya. Ketika seorang teman menyinyir untuk hentikan pendidikan jika tidak tahu implementasi di lapangan, saya tidak perduli juga tidak menyalahkan gagasannya. Seperti, saya meniscayakan kebenaran para pejuang pendahulu kita yang akademis sehingga mampu membangkitkan semangat rakyat untuk merebut kemerdekaan. Jika ilmu itu bisa dicari secara outodidak, sejatinya kita sedang belajar secara didaktif. Mengapa? Karena kita selalu meneladani orang, dan mengambil sampel dari ciptaan Sang Pemilik Alam Semesta, Jalla Jalaalah.

Ciputat, 1 Juni 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK

EFEKTIVITAS PASAR DAN ORGANISASI EKSTERNAL DI KAMPUS

Namaku Ada di Buku Tamu: IKAMI Sulsel Jakarta