Daya Tarik Organisasi


Ada dua tipologi organisatoris yang sering saya dengar dari beberapa tokoh dan narasumber di sejumlah pertemuan formal maupun nonformal. Pertama, organisatoris partisipan; yaitu seseorang ingin berorganisasi karena sadar bahwa ia memiliki potensi yang perlu dikembangkan dan layak terimplementasi untuk memakmurkan organisasinya. Kedua, tipe organisatoris nonpartisipan; yaitu mereka yang hanya menjadikan organisasi sebagai payung teduh dari panasnya kompetisi akademis serta tidak punya tujuan jelas dan justru menyusahkan organisasi. Di satu sisi, kita banyak menyaksikan beberapa mahasiswa produktif dari pengalamannya berorganisasi selalu menunjukkan keuletan. Di sisi lain, sebagian organisasi kemahasiswaan justru dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa yang statusnya nyaris nonaktif. Apakah kedua tipologi tersebut berpengaruh terhadap daya tarik organisasi?
***
Di awal kuliah, saya melihat beberapa lembaga keorganisasian eksternal universitas selalu dipimpin oleh mahasiswa semester nyaris DO. Begitupun para pengurus organisasi tersebut, idealnya generasi merekalah yang pantas jadi pemimpin. Beda dengan anggota baru, rata-rata mereka masih segar dan penuh semangat. Sayangnya, terkadang keagresifan kader baru tersebut dimuarakan pada pergerakan yang jauh dari prospektif akademisnya. Tentu hal tersebut berimplikasi negatif terhadap cita-cita dan durasi masa kuliah. Meski demikian, banyak para organisatoris tua dan sudah terlalu lama di organisasi, mampu menyulap dirinya menjadi pribadi yang sukses. Semula mereka tidak sistematis dan tanpa terget yang jelas menjalani organisasi, dalam waktu lama akhirnya berhasil juga mencapai impiannya.

Dua perbedaan tersebut jelas memiliki ragam penafsiran tergantung individu yang menilai. Jika partsipan lebih menjanjikan, tentu kita lebih respek pada tipe ini. Namun, dengan penuh kebijaksanaan, orang akan menilai nonpartisipan adalah bukan penentu sukses atau tidak di alam semesta ini. Dengan demikian, kita mudah menemukan mana orang yang berlagak brandid karena keaktifannya di organisasi. Sebab menurut dia, organistoris adalah penguasa jalanan. Istilah kerennya adalah menjadi Parlemen Jalanan. Menurut saya, tidak salah jika keyakinan mereka bahwa niat membangun bangsa adalah dengan gaya parlemen. Jelasnya, setiap orang berorganisasi memiliki tujuan tertentu. Apakah tujuannya prospektif atau tidak.

Pernah terjadi dialog antara saya dengan kawan di kampung. Menururtnya, cara membentuk diri agar terukur dan berpengaruh, harus melakukan demonstrasi di jalanan. Membuat asap besar lalu berorasi dengan retorika langit seakan memiliki penawar dari sejuta penyakit bangsa yang menurutnya telah runtuh. Satu-satunya jalan untuk menanam kekuatan pada diri agar diperhitungkan adalah dengan cara demikian. Jika kita melihat sejarah, jelas bahwa itu sungguh menentukan bagi perubahan sosial. Karena fakta sejarah, saya sepakat dengan dia.

Asusmi dasar dari aksi agresif itu adalah bentuk perlawanan yang tidak dapat ditawar lagi. Saya teringat bagaimana Bung Tomo berorasi dengan suara yang mengekspresikan kemarahan terhadap penjajah. Jelas, ia benar-benar memperjuangkan kemerdekaan bangsa namun sejarah tidak mengatakan bahwa dalam keseharian, dia bukanlah seorang yang arogan. Begitupun dengan tragedi Mei 1988 dan lahirnya Komnas Perempuan. Semua wanita berjuang untuk menguak fakta terhadap kekerasan seksual. Begitulah persepsi saya terhadap parlemen jalanan yang ia maksud. Dosen favorit saya yang sering muncul di Televisi mengatakan bahwa mahasiswa yang tidak pernah ikut demonstrasi di jalanan maka ia tidak memiliki romantisme sejarah.

Setelah menyimak tumpukan opininya selama dialog, sayapun menawarkan gagasan bahwa menjadi organisatoris yang strategis adalah memahami relevansi pengkaderan dengan tujuan kedepan. Artinya, ada ragam pergerakan selain dari gaya parlemen jalanan, dengan tegas melaknat siapapun yang dianggap hina. Saya katakan bahwa, di era informasi dan keterbukaan publik ini, kita mesti mengupgrade eksistensi organisasi yang kita jalani. Memang, butuh social power dalam bentuk kuantitas manusia untuk menuju perubahan yang signifikan. Namun, saat ini kita berada di era baru, dimana nalar akademis juga mampu mendeterminasi situasi bangsa dan dunia. Kekuatan media misalnya, ia mampu mengonstruksi publik seketika.

Maksud dari upgrade adalah; sebagai aktivis organisasi, kita tidak boleh mengisolasi peradaban kader kita. Pengurus harus terukur menyiapkan konsep yang tepat dalam pengaderan organisasi. Tidak hanya mengejar pemenuhan sertifikat, akan tetapi perlu juga menyiapkan sesuatu sesuai basic akademis para kader agar dinamis. Di Ciputat, saya melihat transformasi organisasi yang sangat terpola. Mulai dari pangkas generasi karena faktor usia, sampai membuat lembaga keprofesian dalam wadah organisasinya. Lahirlah lembaga pendidikan, lembaga kajian hukum, lembaga kesehatan, lembaga dakwah, lembaga pers, dan sebagainya yang meniscayakan ragam cita-cita para kader.

Ketika saya menyebut beberapa lembaga tersebut, spontan teman saya menolak mentah-mentah gagasan itu. Menurutnya, semua lembaga itu tidak lebih produktif dari intesifitas demonstrasi di jalan yang ia paparkan. Seterusnya, ia menilai bahwa di negara ini masih akan selalu membutuhkan komunikasi yang arogan untuk tercapainya karir paripurna. Sementara gagasan saya adalah cara lamban untuk terlihat gagah sebagai aktivis terhormat. Padahal, Rasulullah Saw juga menawarkan bahwa barang siapa memiliki harta, bersedekahlah dengan hartanya, siapa saja mempunyai kekuatan bertarunglah dengan kekuatannya, dan barang siapa memiliki ilmu berjuanglah dengan ilmunya. Artinya, setiap manusia punya kecenderungan yang berbeda dalam hal pergerakan.

Saya selalu menegaskan kepada rekan-rekan mahasiswa yang berkader di organisasi dalam bidang keprofesian bahwa yang kalian lakukan adalah bernilai besar. Kita mampu menjadi pribadi terukur meski tidak harus berlagak sebagai kader dari staf tercerdas di Senayan sana. Berorganisasi sembari mendalami kejurnalistikan adalah bentuk produktifitas yang kongkrit. Eksistensi kita yang bukan apa-apa justru sebenarnya telah mengubah persepsi negatif para calon anggota yang hendak berorganisasi. Sebab, kita kalangan pinggiran mampu memberi harapan baru bagi mereka yang mau berorganisasi tapi tidak ingin bergaya layaknya pejabat palsu.

Direktur dan Pengurus Lapmi Ciputat Periode 2016-2017

HMI Cabang Ciputat memiliki Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) Ciputat. Ia sebagai lembaga keprofesian yang begerak di bidang jurnalistik. Lembaga ini mengader generasi mahasiswa peminat kejurnalistikan. Memang, retorika dan orasi clasik mereka hanya dilantangkan di atas lembar tabloid dan ruang media online. Meskipun tidak sekeren parlemen jalanan dan segagah pengikut staf bergengsi di Senayan, mereka tetap tidak hilang agresif dan padam inovasi.

Kreasi Lapmi Ciputat periode 2016-2017 dijual untuk kebutuhan finacial organisai

Kembali ke persoalan daya tarik organisasi. Tentu hal tersebut tergantung tipe organiatorisnya. Seseorang akan minat masuk ke organisasi tertentu karena melihat peluang masa depannya. Namun, organisatoris yang no action justru berefek buruk pada organisasi tersebut sehingga mengubah persepsi orang menjadi negatif.

Ciputat, 27 Januari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK

EFEKTIVITAS PASAR DAN ORGANISASI EKSTERNAL DI KAMPUS

Namaku Ada di Buku Tamu: IKAMI Sulsel Jakarta