UIN Jakarta dan Pengembara Tampan
Sebagai kampus Islam ternama, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebenarnya punya kekuatan kemodernan yang berhasil menarik perhatian banyak kalangan. Misalnya pada hari Minggu pagi. Hampir setiap orang selalu menantikan hari menyenangkan itu dan ingin segera berada di taman Sekolah Pasca Sarjana UIN Jkt. Itulah sebabnya, area SPS UIN Jkt selalu dibanjiri manusia di hari tersebut. Tanpa minder dan pikir panjang dengan kata 'Islam', ratusan pedagang datang berjualan di sepanjang trotoar depan SPS UIN Jkt. Sebenarnya, ada apa dengan hari minggu pagi di kampus dua itu? Mengapa orang selalu berbondong-bondong menuju ke kampus Islam itu?
***
***
Kurang lebih 1 Km sepanjang jalan depan Pasca Sarjana UIN Syahid, berjejer ratusan pedagang mulai dari kuliner hingga penjual pakaian. Jika di pasar tradisional kita sering menyaksikan penjual obat dikerimuni manusia karena retorikanya yang memukau, maka di pasar kaget depan UIN tak seorangpun pedagang menunjukkan keahlian berpidato. Penjual buah juga beretorika, namun seni bahasanya berbeda, sangat simpel dan cukup menarik pembeli. Hanya dengan tulisan 10.000/Kg buah mangga, antara pembeli dan penjual menjadi sulit dibedakan.
Selain itu, pemilik aneka lauk masakan Padang yang sudah jadi juga tidak kalah ramainya. Retorika yang digunakan penjualnyapun tidak melibatkan kerja lisan. Mereka mengatur display kuliner mirip prasmanan, sehingga jelas dipandang dan aromanya dapat tercium lalu memaksa siapapun yang lewat akan merogoh dompetnya. Di tengah keramaian pasar dadakan itu juga ada penjual kaset DVD. Tampaknya di pasar manapun di Indonesia ini selalu ada mereka. Hebatnya, retorika jualan mereka beda dari yang lain. Pemilik toko menyetel lagu-lagu familiar dan lagi buming dengan setelan sound sistem yang pas sehingga berhasil membuat setiap orang spontan bernyanyi. Paling tidak, beberapa orang tampak menggoyang-goyangkan bagian tubuhnya karena irama lagu sambil mengantongi beberapa kepingan DVD.
Menurutku, mengapa manusia ramai berdatangan ke UIN bukanlah disebabkan pasar dadakan itu. Sebenarnya, ada hal lain yang lebih menarik dan berkelas. Jika sejumlah orang tertarik akan pesona kuliner di pasar itu, aku justru lebih mendambakan hal lain, yaitu rutinitas Olahraga di Kampus Islam itu. Olahraga mingguan tersebut dibentuk oleh para dosen beserta isteri (suami) dari program Jantung Sehat. Selain bermanfaat menjaga kesehatan dosen-dosen lanjut usia, senam yang secara bergilir dipimpin oleh para Instruktur cantik dan cakap itu, juga memberi warna baru pada liburan akhir pekan civitas akademika yang berdomisili di sekitar kampus. Khususnya pengembara tampan seperti aku.
![]() |
Selama berperan sebagai mahasiswa di UIN Jkt, tidak sedikit gadis-gadis bertakwa mengakui ketampananku. Menurut mereka, senyuman-manisku sangat syar'i. Nah, kalau ada pertanyaan mengenai iklim akademis kampus, tentu jawabannya tidak jauh berbeda dengan suasan di universitas lain. Aku sebenarnya lebih senang membahas dinamika di luar aktivitas formal. Sebab, UIN Jkt bukan hanya identik dengan perkara yang berat-berat saja, ia juga merupakan cakrawala kehidupan yang dinamis dan santai. Kita tahu bahwa para dosennya juga meniscayakan kemoderenan yang layak bergema di lingkungan itu. Tentunya masih pada koridor amar ma'ruf nahi munkar.
Oke, kita kembali ke fokus pembahasan, Olahraga Senam.
Biasanya, usai shalat subuh, aku sudah mengenakan setelan olahraga andalan. Seragam itu adalah celana olahraga panjang, jaket loreng hitam pemberian kakak, dan sepatu olahraga. Sambil merapikan tali sepatu, aku mendambakan dalam bayangan, sebentar lagi Instruktur cantik yang akan memimpin senam. Atau, paling tidak posisiku bisa agak terlihat oleh akhwat-akhwat salehah di arena senam. Gara-gara membayangkan itu, kadang pintu kontrakan lupa dikunci. Ponsel genggamku biasa tidak ikut serta, supaya kenikmatan berolahraga terpenuhi secara sempurna. Setelah sepatu terikat kuat, aku mulai berlari menuju lapangan Pasca Sarjana UINJkt, mengabaikan keramaian pasar dadakan, sejurus kemudian, GPS dalam jiwaku mengarah ke pintu gerbang kampus. Subhanallah, indahnya keramaian kampus.
Senam biasanya dimulai pukul 07.00 WIB. Sebelum tiba saatnya, aku memanfaatkan sisa durasi untuk pemanasan, mengelilingi kampus bisa 3 sampai 4 kali putaran. Lumayan, sepanjang jogging keliling kampus itu biasanya keringat sudah membanjiri tubuh. Menurut beberapa atlit, melalukan pemanasan adalah sesuatu yang dianjurkan sebelum memulai olahraga. Tapi, kalau aku tiba bersamaan dengan mulainya senam, tentu pilihanku harus mengikuti senam pada waktunya. Kalau tidak, aku akan ketinggalan gerakan-gerakan penting dan juga akan kehilangan posisi startegis yang menjadi pembuktian ketampanan seorang pengembara gila ini.
Biasanya senam diawali dengan gerakan SKJ 2012 atau 2014. Gerakan senam formal ini merupakan bagian yang terpenting dari gerakan lainnya setelah pemanasan. Gunanya adalah untuk mengukur jumlah denyut nadi yang dikalikan dengan durasi SKJ kemudian dijumlahkan dengan umur. Menurut pakar kesehatan, hasil dari kalkulasi itu dapat digunakan untun mengenalisa kesehatan sesorang. Untuk tahap ini, jujur gerakannya sangat monoton. Tapi, demi pentingnya kesehatan, setelah mengikutinya secara terpaksa akhirnya terasa menyenangkan. Ibarat membaca buku, ia membosankan, namun karena semua demi tuntutan akademis maka akan nikmat juga.
Usai gerakan SKJ, seterusnya masuk pada tahap kedua yaitu bagian yang cukup ekstrim. Senam Aerobik. Gerakan-gerakan yang dipilih oleh Instruktur pada tahap ini sebenarnya tidak terlalu variatif. Pilihan musik dan komunikatif seorang Instruktur akan membuat peserta senam mau mengikuti gerakan-gerakan cepat dan susah itu dengan gembira. Pada tahap ini juga, para anggota Jantung Sehat yang mayoritas Ibu-ibu lansia, tampak kesusahan mengikuti ketukan dan hentakan tubuh dari Instruktur. Meski tertatih, para lansia yang akademis itu tetap memaksa menggerakkan badannya selincah mungkin. Pemandangan tersebut sangat menghibur dan membuat tertawa para peserta yang masih muda serta mengekekkan sang Instruktur berulang-ulang. Untuk menyemangati para lansia, terkadang Instruktur menyerukan pertanyaan, "apakah ada yang sepuh di sini?" Serentak dijawab para Ibu-ibu, "tidak ada...". Lucu sekali.
Betapa pentingnya kesehatan menurut para lansia. Hal tersebut dibuktikan dari kesungguhan yang kuat untuk menuntaskan tahap-tahap dalam senam. Jujur, aku sendiri sebenarnya tidak kuat melakukan seluruh gerakan yang cukup ekstrim itu. Apalagi tempo senam aerobik tidak selamban SKJ, ia juga memiliki banyak gerakan sulit. Belum lagi sampai pada gerakan lompat-lompat, sungguh sebenarnya jantung ini serasa mau copot. Denyutnya begitu tergesa, sesak, dan hidung merekah seakan mengemis oksigen. Tapi, aku berusaha terlihat sebugar mungkin walau hakikatnya tubuh ini akan tumbang. Lagi-lagi, semua karena reputasi dan terlanjur merasa dianggap tampan oleh gadis-gadis di sekeliling. Sehingga, tidak mungkin aku memupuskan rasa kekaguman mereka. Jadi, aku tetap meneruskan sampai gerakan terakhir meski aku harus bernafas menyerupai anjing pelacak. (Penting diketahui, wanita berpakaian tidak sopan akan dikeluarkan dari arena senam).
Setelah tahap kedua terlewati, bagian terakhir adalah senam kreasi. Tahap ini menjadi ajang pembuktian profesionalitas seorang Instruktur senam. Sebab, peserta menyukai gerakan-gerakan bebas dan bervariasi, termasuk Ibu-ibu lansia sebagai pendiri senam itu. Maka, sebaiknya para Instruktur memiliki banyak genre gerakan yang disesuaikan dgn musik. Karena, peserta kadang meminta 2 sampai 3 lagu dengan model gerakan berbeda. Jika Instruktur menunjukkan gerakan monoton, sungguh tak segan-segan peserta, bahkan Ibu-ibu lansia, menyoraki sang Instruktur secara serentak.
Namun sejauh ini, pada bagian senam kreasi Instruktur selalu memberikan gerakan-gerakan kejutan. Mereka sangat up to date dengan hal-hal yang happening dan buming. Misalnya, membuat gerakan India Chaia-chaia, sebab saat itu lagi maraknya Norman Kamaru. Kemudian, ada juga Goyang Cesar, Sambalado, Salsa, Zumba, Goyang Pinguin, Jaipong, Poco-poco, Tarian Maumere, dan masih banyak lagi tarian kreasi lainnya. Dari semua macam gerakan kreasi tersebut, aku merasa lebih plong nan lincah pada gerakan India, Salsa, Jaipong, Poco-poco, dan Zumba versi Dance. Kelenturan tubuhku yang terlihat kaku ini akhirnya ditemukan pada beberapa gerakan favorit tersebut.
Sebetulnya, efek terbesar kelentikan dan juga kelenturan tubuh ini adalah dari mengidolakan Actor Ternama India, Shah Rukh Khan. Bagaimana naluri tarian ini tidak melekat pada jiwa, semua film yang diperankan oleh King of Romance itu telah kuhatamkan. Mungkin akibat dari nge-fans terhadap King of Khan itulah sehingga menjadi salah satu sebab para wanita yang pernah berdialog denganku selalu senang dan penasaran. Ibarat Kajol di film Kuch-Kuch Hota Hai. Selain itu, kampung kelahiranku juga dikenal sebagai daerah yang punya tradisi joget fenomenal. Kurang bangga sebenarnya, tapi kelihaian menari masyarakat di kampungku itu mungkin punya pengaruh sedikit pada gerakan-gerakan lincah ini di arena senam mingguan itu.
![]() |
| Selfie |
Nah, menurutku, jawaban yang pas untuk pertanyaan mengapa orang senang berbondong-bondong ke Kampus Islam (UIN Jakarta) di pagi hari Minggu adalah karena adanya Senam. Sebab, Intensifitas olahraga yang kulakukan tersebut seakan telah menjadi ritual dalam hidupku. Betapa tidak, jika aku melewatkan hari minggu meskipun karena hal penting, rasa penyesalan seakan memberontak di dalam jiwa. Begitupun para peserta senam lainnya yang orangnya selalu sama itu, tentu menunggu-nunggu hari minggu berikutnya. Jelas bahwa yang meramaikan pasar dadakan adalah mereka para pecinta olahraga di UIN Jkt.
Untuk lebih yakin lagi, bahwa kegiatan senam mingguan di UIN Jkt pernah dilarang. Setelah sebulan senam tidak diadakan, akhirnya aku mencari tahu. Menurut ketua Jantung Sehat, sebabnya karena jalan raya depan kampus dua sudah parah macetnya. Alasan lainnya adalah bahwa pedagang kaki lima sudah semakin bertambah. Meskipun pemberhentian senam tidak relevan dengan masalah kemacetan terasebut, tetapi anggota Jantung Sehat tetap menghargai keputusan yayasan dan menunggu sampai akhirnya diaktifkan kembali. Saat itulah aku merasa seakan olahraga di hari minggu adalah ritual dalam hidupku. Aku teringat ungkapan dosen Gun Gun Heriyanto saat menjelaskan teori Hirarki Pengaruh, bahwa ritual adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan jika tidak dikerjakan sekali saja, maka terasa ada yang ganjal di hati.
Olahraga adalah aktivitas menyehatkan. Ungkapan tersebut tampaknya sulit terbantahkan karena hampir semua manusia mendambakan kondisi tubuh yang fit dan salah satu solusi terbaiknya adalah berolahraga. Ada banyak bentuk olahraga yang kita tahu dan tentunya masing-masing orang memilih berolahraga sesuai yang ia sukai. Ada yang hobi sepak bola, basket ball, volly ball, senam, dll. Bahkan ada orang-orang tertentu menggemari semua cabang olahraga sekaligus.
Apa mungkin kesehatan jasmani sebagai efek olahraga tersebut membuat dunia tertarik mengemasnya menjadi ajang pertandingan antar negara sehingga terbentuklah Global Harmony (Vin Diesel, XXX 2)? Jika tidak, lalu seberapa pentingkah olahraga bagi kehidupan? Aku teringat ungakapan tegas B J Habibie bahwa setidaknya ada beberapa olah yang harus manusia kerjakan untuk menjadi pelopor pembangunan. Apa saja olah-olah versi Presiden Indonesia ke-3 tersebut?
Menurut Habibie, ada 5 olah yang harus dilakukan. 1. Olah raga agar badan sehat, 2. Olah rasa agar iman melekat, 3. Olah rasio agar ilmu meningkat, 4. Olah usaha agar ekonomi kuat, dan 5. Olah kinerja agar produktifitas meningkat. Menurut lelaki jenius itu, olahraga juga sangat diperhitungkan untuk menunjang kehidupan yang sentosa. Secara pribadi, selain tertarik pada futsal dan basket, senam menjadi pilihan olahraga yang sangat menyenangkan bagiku.
Ciputat, 20 Januari 2017


Komentar
Posting Komentar