Meracik Ramuan Semangat
Sesungguhnya, saya dengan alamat blog amatir ini telah lama saling "bombe" (tak saling tegur). Kami tidak saling menyapa hampir setengah tahun lamanya. Meski saya akui, sebenarnya masih ada namanya di dalam hati ini dan selalu terbayang dalam benak jika lagi eksis menulis status di media sosial seperti Facebook. Ibarat dua sejoli yang tanpa ada keputusan break, sehingga menyebabkan tidak care lagi satu sama lain. Padahal, mereka masih menyimpan bekas cinta di dalam lubuk hatinya. Jelasnya, kondisi tersebut ibarat dua manusia yang sudah lama tidak berkomunikasi, sehingga tidak heran kalau password alamat blog tersebut hilang dari memori. Namun, saya terkejut, dalam hitungan detik, ketika membuka alamat blog lewat Om Google, ada sesuatu yang membuat saya sekejap mengingat password itu kembali. Apaa?
--------
Seseorang tentu berpikir bahwa saya kembali mengingat password itu karena bantuan informasi dari beberapa tulisan di internet atau meminta bantuan dari teman. Memang, kedua jurus ampuh dan familiar itu adalah jalan pintas bagi siapa saja yang mengalami problem seperti saya. Anehnya, bukanlah kedua jurus itu yang membantu saya. Lalu, apakah kunci ampuh yang telah menyelamatkan mata saya untuk memandang kembali laman blog pribadi saya ini? Angin apa yang membuat saya membuka alamat blog ini lewat Google? Begini ceritanya...
Selama dua bulan, diri ini tidak merasakan lagi iklim akademis di kampus UIN. Libur kuliah 60 hari itu telah berhasil menggerogoti kelincahan biasanya dan mampu mengacaukan keterampilan saya dalam memenej tumpukan pekerjaan, akhirnya sampai pada rasa fluktuasi semangat ini pahit sekali. Beragam cara telah saya coba untuk menstabilkan perasaan yang entah apa namanya ini, yang jelas sangat menghantui jiwa. Interior ruangan kontrakan yang biasanya diinstrumeni latihan vocal saya tiap sorenya menjadi seolah tak pernah terjadi. Sunyi, sepi, senyap, dan membosankan. Akhirnya saya duduk merenung, dan mencoba memutuskan tali belenggu yang cekikannya sangat kuat itu. Sejenak teringat tips dari teman, katanya, salah satu ramuan untuk mengusir bosan adalah melakukan hal baru di luar aktivitas sehari-hari. Tapi saya telah mencobanya dan benar-benar tidak seperti biasanya. Kali ini tips itu tidak berhasil.
Daripada no action, saya coba mencari dan melihat bagaimana semangat alm. Ir. Soekarno, Presiden Pertama Indonesia, dalam karya Roso Daras yang berjudul Total Bung Karno. Sampai tiga minggu, eksperimen itu rasanya hanya berefek saat membaca buku saja. Lalu saya beralih ke movie. Puluhan film Hollywood dan Bollywood saya download dan bersenang-senang mengkritisi narasi dan menelusuri pesan-pesan dalam film-film tersebut seperti yang pernah dilakukan salah satu dosen favorit saya di Jurusan KPI, UIN Jakarta . Ternyata, ramuan kedua (film) juga sangat tipis pengaruhnya. Berulang-ulang, sampai Total Bung Karno itu kini menuju ke jilid 2 dan semua koleksi film selesai dilahap, tetap saja belum memenuhi hasrat saya saat itu.
Betapa shock diri ini, sebab solusi yang saya cari-cari sebenarnya adalah hal yang semu. Nihil. Spirit yang disangka memudar dalam jiwa ternyata hanya sebuah ilusi, gumamku. ... Benarkah? Apakah ungkapan saya tersebut artinya saya telah menemukan semangat lagi? Jawabannya mungkin iya. Semua itu sebenarnya berawal dari sebuah blog, lebih tepatnya, blog seorang yang bersahaja. Ya, saya sadar, ternyata saya sendirilah yang menciptakan spirit dalam jiwa, bukan orang lain atau benda lain. Seorang pemuda hebat berinisial YD, melalui tulisan-tulisannya, telah membuat saya mencoba-coba hasrat yang satu ini, menulis. Ya, mencoba-coba, barangkali menyenangkan. Sehingga, hadirlah sebuah blog amatir yang menambah jenis penyemangat hidup. Ya, bukan hanya musik lagi, kini bertambah. Semuanya berawal dari coba-coba, membuat tulisan amatir yang ternyata cukup mengundang apresiasi pembaca. Sulit dibayangkan. Di luar ekspektasi, namun saya menyadari bahwa jempol dan komentar-komentar itulah bagian dari pundi-pundi semangat dan kebahagiaan. Lalu pertanyaan saya, ketika semangat memudar, apakah memang ia benar-benar memudar? Menrutuku tidak. Mari kita lihat.
Sesuatu yang membisik dan mengingatkan password alamat blog ini ke saya adalah seorang wanita yang jauh lebih tua dari saya. Ketika pikiran saya spontan menggerakkan jemari dan membuka alamat blog di Google, yang muncul adalah tulisan saya yang berjudul "Komersialisasi Agama dalam Film PK". Tulisan mengenai Film Bollywood dan dikenal teologis itu hanya mendapat satu komentar saja. Satu-satunya. Komentar wanita yang belum pernah saya jumpai itu mengakui bahwa dirinya tidak sempat memikirkan komersialisasi agama dalam film yang sudah ia tonton itu. Ya, komentar itulah, ia laksana ilham yang turun dari langit dan menyulutkan api semangat yang sudah mulai redup. Semoga bermanfaat.
Chusnul Huluk
Senayan, 15 Maret 2016
Komentar
Posting Komentar