Every Day is My Birhtday

Menjelang tanggal/hari kelahiran, seseorang biasanya berhasrat merayakannya. Anak kecil berharap pada orangtuanya agar digelar pesta gembira dan mengundang anak sebayanya. Seorang jomblo memilih berbijak diri atau melakukan ritual pribadi dengan bermacam makanan lezat, sesuai kondisi saku. Pasangan muda mudi dan suami isteri, mengemas perayaan ini dengan konsep seromantis mungkin bahkan kadang penuh hujan surprises yang menyanjungkan hati. Idealnya, setiap hari adalah hari kelahiran manusia. Mengapa?
                                      ***

Semua ritual itu adalah ekspresi sadar bahwa ada secercah rasa bahagia di dalam diri saat berulang tahun (berkurang usia). Meski ia terkadang menyetting hidding tanggal kelahirannya di akun jejaring sosial. Namun, ia tetap akan sumringah juga, apalagi spontan ada beberapa sms ucapan do'a dari para sahabat yang mengingat tanggal bersejarah itu. Tapi, tidak bagi mereka yang sedang 'kere', justru cukup kebingungan menstabilkan hasrat ingin berbagi kebahagiaan, seperti, traktir makan, bayarin futsal, tiup lilin di atas kue mahal, dll.

Kita pasti menemukan diferensiasi pada Si yang berulang tahun. Perbedaan tersebut tergantung ia pria atau wanita. Pria biasanya lebih santai dan tidak begitu berlebihan, meski akhirnya ia terkelepak jua jika pasangannya memang penuh kejutan-kejutan romantis. Beda dengan wanita, hasrat ingin dimengerti, disayangi, adalah penentuan kepekaan lelaki. Meski, tidak sedikit dari wanita memaklumi kelalaian lelaki dan akhirnya tersanjung pada teman prianya yang justru memanfaatkan sweet moment tersebut, "sakitnya tuh di sini".

Secara alamiah, manusia bernyawa akan mengalami mati-sementara (tidur) kecuali mereka yang tidak tidur sedetikpun selama tiga hari. Ashabul Kahfi seakan mati lalu dihidupkan kembali, padahal Allah Swt membuat mereka tertidur dengan alasan tertentu. Ketika manusia berada dalam alam jiwa (bukan jasad) yakni tertidur sampai bermimpi, barangkali inilah yang menjadi salah satu kajian berkenaan dengan Every Day is My Birthday (baca Psikologi Kematian; Komaruddin Hidayat).

Setiap mau tidur kita diajak memasuki alam kematian. Kita berdoa: Bismika Allahumma ahya wa amuut (Ya Allah, dengan asma-Mu malam ini aku mati). Jika kita bisa secara intens menghayati dan memberi makna, setiap hari adalah hari kelahiran dan juga hari kematian. Setiap hari kita melakukan pesta tasyakuran dan doa pertobatan pada Allah (Komaruddin).

Satu yang mengalihkan perhatianku, mungkin Anda juga, yaitu mereka yang merayakan Birthday ini dengan kegiatan amal ibadah atau pengembangan masyarakat dalam jangka pendek. Ibarat rumah yang interiornya dipenuhi perabotan indah, dalam diri mereka terdapat cahaya permata surga. Cahaya tersebut memancar dan membentuk kepribadian yang transhumen. Ini bisa jadi merupakan mazhab berkurang umur, bukan panjang umur. Sehingga membentuk sebuah paham 'berkah umurnya', bukan 'panjang umurnya'.

Best influential ritual yang satu ini telah sampai pada praktisnya. Cukup banyak muda mudi mengikuti model perayaan tanpa lilin dan kue tersebut. Tanpa mereduksi silaturahmi bersama teman/sahabat yang masih terbiasa dengan perayaan gaya lama. "Traktir temanmu, lalu bagilah bahagiamu dengan mereka yang pantas (jika mampu)" dan bergegaslah lempar senyummu untuk mereka yang nyaris lupa cara tersenyum.

Ciputat, 16 Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK

EFEKTIVITAS PASAR DAN ORGANISASI EKSTERNAL DI KAMPUS

Namaku Ada di Buku Tamu: IKAMI Sulsel Jakarta