Buat "Untuk Pak Oman dan Pak Rektor"
Terkejut usai baca Tabloid Lpm Institut Uin Jakarta edisi XXXV, hal. 8, rubrik Opini "Untuk Pak Oman dan Pak Rektor" (mungkin maksudnya surat pembaca kali). Sangat impresif bagi saya. Meski cukup sulit mengoherensikan pesan penulis dgn realitas yang ada.
Alur teks pada tulisan Rizqi Jong ini cukup berimbang secara kritis statement tentang Pak Oman dan Rektor UIN Jkt. Tidak semua mahasiswa berani melakukan sesuatu seperti yg ditulis Rizqi. Menurutnya, kurang etis apa yg disuratkan Mantan Dekan FAH secara terbuka itu. Untuk Rektor, agar lebih bijak mengambil keputusan urgent, tulis Rizqi.
Saya menemukan dua point penting dari tulisan yg dimuat oleh INSTITUTE. (1) Surat terbuka Pak Oman yg tidak etis meragukan Dekan penggantinya, dan (2) Kebijakan Rektor menunjukkan krisis komunikasi yg baik sehingga Ia tdk bijak memutuskan. Jelasnya, bahwa kedua Guru Besar UIN Jakarta ini, oleh Rizqi dinilai tdk paham berkomunikasi. Nama Guru tercinta saya Gun Gun pun disebut seakan mengekspresikan perseteruan politik. Sebab, Gun adalah ahli Komunikasi Politik.
Bagi saya, yang ditulis Rizqi adalah argumentasi yg cukup akademis. Tapi, sayangnya INSTITUT tidak menerapkan Prodi penulis. Tabloid hanya menulis bahwa Pemuda ini merupakan Mahasiswa UIN Jkt, entah semester berapa.
Secara ringkas, saran Opini untuk Rektor ini sama dengan yg dikemukakan Oman dalam suratnya beberapa pekan lalu. Saya terkejut, sebenarnya Oman dan Rizqi sama-sama menduga Statuta UIN yang baru bisa jadi salah penafsiran. Sementara itu, Oman sejatinya sebagai Dekan (saat itu) pasti penasaran, seakan Rektor meragukan kapabilitas Dia. Senada dgn dugaan Rizqi, bahwa surat Oman seakan meragukan kapabilitas sahabatnya sendiri, Dekan FAH saat ini (semoga Rizqi tdk keliru menganalisis teks surat Oman).
Hemat saya, perlu memang sebuah data yang berimbang untuk membandingkan dua hal/pribadi. Rizqi telah menawarkan pola pikir yang sangat bijaksana dan berimbang. Saya pun menilai, tulisan ini ingin agar Oman dan Rektor bertemu dan membahas hal-hal yang perlu. Pada saat yg sama, sebagai sivitas akademika, Rizqi menyarankan kita agar belajar lagi tentang Komunikasi yang baik, Menyurat yang baik, dan paham Statuta UIN Jkt.
Saya menilai, Rizqi tengah menasihati Rektor dan Oman. Secara konteks, Rektor kesepian, sebab pesan yang disampaikan Rizqi dan Oman substansinya tidak jauh berbeda. Hanya, secara pintar dan pantas, Rizqi juga memberi kritikan untuk Oman. Padahal, Oman, dalam suratnya mengajak Mahasiswa lebih kritis. Meskipun niat Rektor dalam keputusannya juga sudah diperhitungkan sematang mungkin.
Hal mengejutkan lainnya adalah, dua Opini lainnya pada hal. 9, disertakan nama prodi/jurusan penulis. Sementara Rizqi, Misterius. You are Rock bro...\m/
Ciputat 30 Maret 1990
(Pernah kuliah di FIDKOM Jurusan KPI UIN Jkt)
Komentar
Posting Komentar