Teguran Roti Berjamur

Akhirnya saya memutuskan untuk menulis saja peristiwa tadi. Sebab, batinku seakan menolak marah, padahal telah bulat tekadku untuk menyalahkan Kasir KUIN Mart dekat gerbang Madrasah Pembangunan itu. Saya akhirnya memilih menyalahkan diri daripada menuding Koperasi milik UKM UIN Jakarta tersebut yang kurang teliti. Ya, roti yang saya beli seharga Rp. 6.000 itu sudah tidak layak dikonsumsi manusia.

***

Sebenarnya, sudah lama saya tidak tertarik untuk belanja di Koperasi tersebut. Selain harganya yang lebih mahal dari mini market lainnya, ia juga memiliki karyawan yang kurang ramah dibanding Koperasi yang lain. Entah ini hanya pada sudut pandang saya atau memang orang lain juga merasakan yang sama. Inilah yang saya alami selama ini, sebagai alumni UIN Jakarta.

Sekitar pukul 10.00 WIB, setelah Barber memangkas dan merapikan model rambutku, saya harus menukar uang yang oleh Barber tersebut tidak punya kembalian. Tidak pantas menurutku jika uang sejumlah RP. 100.000 tersebut menukarnya di warung kecil. Akhirnya, KUIN Mart menjadi pilihan, yang hanya berjarak 4 rumah dari Barber Shop favoritku.

Usai membeli roti dan menyelesaikan urusanku dengan si Barber, kemudian kutelusuri jalan sambil menyobek plastik roti yang bentuknya cukup menggoda selera. Sayang, rotinya ternyata sudah berjamur, walau belum seluruhnya. Saya baru menyentuhnya pelan, dan benar saja, ia langsung hancur lebur, lalu kulempar saja ke tempat sampah. Astaghfirullah, betapa Tuhan telah menegurku yang penuh dengan dosa dan kezhaliman.

Betapa teledornya saya, tidak lagi memastikan kondisi roti yang berjejer di Koperasi milik Kampus Islam tersebut. Sungguh picik pikiran dan insting ini, sampai tidak sempat terbenak untuk menanyai si Kasir mengenai kondisi seluruh roti yang tersusun di rak-rak itu. Hah? (nggak mungkin dong saya musti tanya sampai sedetil itu, hehehe). Semoga semua makanan yang telah Exp tersebut cepat-cepat dimusnahkan oleh kuasa Allah Swt. Amiin.

Yang jelas, saya masih percaya bahwa kejadian itu adalah musibah dari kebodohanku. Saya yakin sampai saat ini, berniaga sesuai syariat masih sangat dijunjung tinggi oleh seluruh Pengurus KUIN Mart itu. Maka, teman-teman sekalian, jangan pernah meniru kesalahan saya yang konyol ini. Perhatikanlah sebelum membeli roti di Mart-mart manapun itu. Tidak perlu bagi saya mengambil gambar roti tersebut kemudian menyebarkannya ke jejaring sosial.  

Ciputat 7 Februari 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK

EFEKTIVITAS PASAR DAN ORGANISASI EKSTERNAL DI KAMPUS

Namaku Ada di Buku Tamu: IKAMI Sulsel Jakarta