Sisi Lain Sopir Batak (Terpuji)

Aku malu. Sebenarnya kamu tidak setegah itu. Aku malu, ketika menyaksikan keugalan supir metro mini. Aku malu, logat bataknya dibuat sekasar mungkin tuk turunkan penumpang, mengofor mereka ke angkutan lainnya. Walau belum sampai tujuan. Aku malu sama banyak lansia di dalam angkutan, sebab Aku juga dari tanah Batak. "Membayangkan seseorang sedang menyayangkan peristiwa dalam sebuah metro mini".

Memang, Anda butuh uang, dan kami butuh waktu. Kalimat itu tertempel pada cermin depan supir di sebuah metro mini (dalam bentuk stiker komersil). Seakan manusia tdk pantas lagi mendapatkan kenyamanan dan keselamatan. Sehingga, kecelakaan akibat saling ngebut di jalan raya, tak tanggung-tanggung melukai fisik bahkan mencederai ibu-ibu.

Aku ingat, tatkalah kawanku memarahi supir metro mini tujuan tanah abang. "Ose kira di dalam mobil ini barang kaa? Pelan-sajaa, manusia yang Se bawa ini". Mendengar itu, supir langsung injak rem memelankan mobilnya. Ada juga kecelakaan metro mini yang menyebabkan penumpangnya luka-luka sebab salah satu bannya menaiki trotoar lalu mobil terguling. Peristiwa itu dekat kampus UIN Jakarta. Kedua metro mini saling aduh keunggulan di jalan raya. Ini bagian dari ritual nyetir mereka, khususnya supir muda. Sayang sekali.

Padahal, ketika Saya traveling ke tanah Batak, tepatnya di Kota Medan, para supir tidak seperti di Jakarta. Sebulan di tanah batak, Saya mengalami banyak keunikan dan melihat sifat terpuji dari sebagian Supir. Mereka cukup tanggung jawab terhadap kenyamanan penumpang. Tepat di hadapanku, seorang penumpang lelaki ditarik keluar oleh sang supir sebab ia mengganggu wanita di dalam angkutan yg ia bawa. Nampaknya, cermin yang di depan supir itu berfungsi semestinya. Hehe.

Kota Medan yang asri, sopan, dan menyenangkan telah menaruh kesan yang sulit dilupakan. Kontroversi antara supir darah Batak di Kota Jakarta dan Kota Medan adalah wacana yang menarik bagiku. Prikemanusiaan serta hak-hak penumpang harusnya aman dan sampai tujuan. Tidak ada alasan rasional menurunkan penumpang di Pasar Jum'at yang seharusnya berakhir di Pasar Ciputat. Sekalipun, Saya pernah mendapati aktivitas serupa di Kota Medan. Bedanya, komunikasi mereka lebih santun dan menyenangkan.

Seperti sebuah insiden, saat Saya bersama kawan menuju Gedung DPR di dalam metro mini tujuan tana abang. Tepat di simpang jalan Pondok Indah Mall, setelah lampu merah, tiba-tiba mobil sedan putih menghadang metro mini yang kami tumpangi. Beberapa detik kemudian, kaca depan metro mini itu hancur oleh tangan pemilik mobil sedan putih. Penumpang serentak teriak ketakutan. Dia murka lantaran supir metro yang masih sangat muda ini seakan menyenggol-nyenggol mobilnya.

Lalu, turunlah supir metro menghampiri pemilik mobil putih yang tangannya sudah berlumuran darah. Sebelum anak muda ini ngomong, langsung dimaki oleh seorang bapak yang menahan lukanya sendiri agar tak keluar banyak darah. "Kau mau tabrak mobilku rupanya? Dari tadi kulihat, kau sudah senggol-senggol mobilku", kata pemukul kaca mobil dengan logat bataknya. Dibalasnya oleh anak muda, "ganti kau kaca mobilku, ganti kau". Jawab si bapak, "ganti kau ini tanganku berdarah". Akhirnya, seluruh penumpang turun dan menunggu metro lain, tentunya bayar ongkos lagi.

Peristiwa di atas sepakat denganku. Saya yakin, Batak adalah negeri berbudaya. Batak adalah masyarakat yang santun dan bertradisi. Kalau tidak begitu, mana mungkin Saya diterima nginap selama sebulan di kontrakan mahasiswa IAIN Medan itu. Sejatinya, kita bersama, melawan keugalan serta kegaduhan para supir yang tak beretika dan berbudaya.

Ungkapan Saya tersebut terbukti saat Jokowi hendak menaikkan harga BBM. Sehari sebelum harga BBM naik, supir metro mini tana abang-ciputat telah memainkan tarif. Namun sayang sekali, ketika supirnya hendak menghindari macet, ia memotong jalan melalui perumahan pondok indah. Tiba-tiba kaca kiri dan kanan pada metro hancur oleh palang besi karena supir memaksa terobos. Harusnya, ia meninggikan sedikit palang tersebut.

Percikan kaca melukai jidad seorang lelaki tua berusia sekitar 50 tahun yang duduk di bangku sebelah kiri. Saya duduk di belakang, menyaksikan bagaimana kaca tersebut hancur seperti membelah brownis menggunakan ibu jari. Untung wajah penumpang tidak menatap ke atas saat kaca pecah. Sisi positifnya, tatkalah Saya bujuk supir agar minta maaf pada Bapak itu juga pada penumpang lainnya, ia langsung melakukannya dengan ramah dan menyesali tingkahnya. Supir-pun menurunkan kami, lagi-lagi, di Pasar Jum'at. Semoga tarif yang dimainkan tadi dapat membayar biaya ganti-rugi kaca-kaca yang pecah. Haha

I Love Batak. I love Indonesia. Semoga tidak terulang lagi kezhaliman dalam ruang metro mini. Senantiasa kita mengharapkan penjagaan dari Sang Maha Kuasa. Amiin. Ini PR kita bersama.

Ciputat, 11 Februari 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK

EFEKTIVITAS PASAR DAN ORGANISASI EKSTERNAL DI KAMPUS

Namaku Ada di Buku Tamu: IKAMI Sulsel Jakarta