BUTON MEMILIKI PULUHAN BAHASA
Ada Tokoh Belanda ingin belajar
bahasa Indonesia. Sebut saja Van Dik namanya. Dia tiba di tanah air tepatnya di
pulau jawa. Sekian tahun belajar kaidah bahasa Indonesia, justru semakin aneh
pikirnya. Ini disebabkan karena masyarakat jawa (orang Indonesia) tidak
menggunakan bahasa seperti halnya Van Dik pelajari. Sehingga, kita tahu bahwa bahasa
di Nusantara sangat beragam.
Begitupun yang terjadi di Pulau
Buton rekan-rekan. Justru di Buton memiliki puluhan bahasa dan ratusan dialek. Wah,
bagaiamana masyarakat dahulu menguasai sekian bahasa tersebut? Mungkin jawabannya
bisa Anda terima dari Ayah, Ibu, Kakek, Nenek dan sanak saudara rekan-rekan
yang mampu berbicara dengan banyak bahasa. Apakah ini menyangkut kerukunan dan
keharmomisan masyarakat Buton di masa lalu? Mari kita buktikan!
Buton sebagai sebuah Negara,
memiliki karakteristik sosial yang unik. Hasil catatan Lihgvoet pada tahun
1878, Penduduk Buton diperkirakan telah mencapai jumlah sekurang-kurangnya
antara 100.000 sampai 200.000 jiwa. Jumlah menpower yang lumayan besar itu memosisikan
juga Kesultanan Buton cukup penting artinya bagi pihak manapun di Nusantara (Fahimuddin.
ed. 2011; xxxix).
Wow, sangat menarik jika terus
dikaji dan didiskusikan. Bagaimana mungkin kita tidak dapat menguasai walau
satu bahasa saja dari puluhan bahasa di Buton. Kepentingan Negara-negara
tetangga saja saat melakukan pelayaran di Pulau Buton tempatnya. Letaknya yang
strategis menjadi tumpuan dan persinggahan pelaut-pelaut penting dalam menempu
perjalanan misi mereka. Kalau tidak mempelajari bahasa Buton, mana mungkin perdagangan itu berjalan lancar.
Hasil pemetaan bahasa yang pernah
dilakukan menunjukkan adanya sekitar 16 bahasa yang digunakan di bekas wilayah
Kesultanan Buton (Fox dalam Southon 1985). Pemetaan ini sempat dibantah Liebner
yang menyebutnya ada 30 bahasa dan lebih seratus dialek. Apapun perbedaan
pandangan di kalangan peneliti tersebut kian memperkukuh fakta bahwa Buton
adalah wilayah yang sangat heterogen dengan banyak etnis serta bahasa di
dalamnya. Satu hal yang sama dari sedemikian banyak bahasa itu adalah setiap
akhir kata selalu dengan huruf vocal.[1]
Ragam bahasa wolio terdapat
beberapa dialek yakni Keraton, Liwuto (Pulau Makassar), Bungi-Waruruma, Tolandona,
dan Talaga. Bahasa Cia-cia dengan dialek Wabula, Batauga, Sampolawa, Laporo,
Takimpo, Liwumpatu, Kase, Kaisabu, Kondowa, Wagola, Batu Atas, dan dialek Wali
di Pulau Binongko. Penggunaan bahasa Pancana mencakup dialek Lasalimu,
Kapontori, Kamaru, Todangan, yang mendiami Buton Utara.
Dialek Mawasangka, Bombonawulu,
Watulea, dan Lakudo di daratan Pulau Muna Selatan dan dialek Tiworo, Siompu,
Kadatua, Talaga, dan pulau-pulau sekitarnya di Wilayah Kabupaten Buton. Kemudian
bahasa Suai yang digunakan oleh masyarakat kepulauan Tukang Besi yang terdiri
dari dialek Wanci, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Selain bahasa-bahasa
tersebut, terdapat pula bahasa Bugis yang menetap.[2]

Komentar
Posting Komentar