BUKAN ASAL MAINAN
![]() |
| Dari Google |
Sekilas obrolan santai dengan Ibu Hj. Surah di kediamannya
Kaobula mengingatkanku betapa asyiknya bermain bersama di waktu kecil. Permainan
yang disebutkan dan dinostalgiakan oleh Hj. Surah persis seperti yang saya
mainkan dengan teman-teman di Tolandona saat kecil. Apa yang kami obrolkan
beberapa detik itu bukanlah dari yang terlihat sekarang. Maksudnya, permainan
tersebut sudah dibilang punah oleh masyarakat.
Kekompakkan dan kebersamaan dalam permainan tradisional di
Buton ini mampu melatih keakraban dan kebijaksanaan anak kecil, kata Hj. Surah.
Kini, di zaman teknologi dengan akses mainan anak-anak yang sangat relative murah
dan menarik justru berpeluang besar mengajarkan anak ke sifat individualis. Wah,
seperti apa itu rekan pembaca?
Mungkin Anda kurang setuju dengan pernyataan ini. Alasan Anda bisa jadi karena orang tua kurang ngerti cara mendidik anak. Sifat permisif orang tua bisa jadi alasan mengapa permainan terkini menjadi berbahaya. Namun, apakah tidak bagus kalau anak mengetahui perkembangan teknologi dengan terarah tetapi juga terlatih secara mental melalui permainan tradisional.
Sebut saja apa yang ada di benak Anda dari permainan
tradisional yang pernah dimainkan bersama teman sejawat Anda dulu! Bayangkan betapa
asyiknya permainan itu dengan mengandalkan kerja tim dan saling percaya serta
tanggung jawab penuh. Jika dilihat dari segi science, mungkin sulit ditemukan. Tapi,
apakah permainan tradisional tersebut hanya dibuat sedemikian saja? Bukankah penemu
permainan itu menyumbangkan kemampuan filosofinya?
Ajaklah adik atau keponakan kita bermain di tanah lapang
atau halaman rumah kita. Pada awalnya mungkin belum menyenangkan bagi mereka. Jangan
dihentikan, lakukan tiap hari, budayakanlah permainan itu. Yakin, pasti akan
menjadi popular sekalipun teknologi canggih membanjiri kehidupan. Saya yakin, instrument
permainan tradisional tersebut akan melatih kepribadian, ketangkasan dan apa
saja yang Anda mau latih.
Sepakat dengan para Pemerhati Budaya Buton. Namun, bagi saya
perlu kita diskusikan dengan praktis permainan budaya tersebut. Karena permainan-permainan
tersebut akan cukup mampu menyelamatkan anak-anak dari tsunami teknologi yang
kurang mendidik.


Komentar
Posting Komentar