BUKAN ASAL MAINAN




Dari Google
Ssssssssssstt. Pernakah Anda mendengar permainan Kasede-sede, Pebudo, Ase, Kaoda Oda, Jori, Enggo, Bente, Ye-ye, apalagi? Ayoo bantu saya menyebutkannya! Hehehehee. Permainan ini bukan hanya ada di Buton. Namun, nama dan pola biasanya berbeda. Masih banyak lagi permainan lainnya. Bahkan, ada permainan khusus yang dimainkan oleh anak bangsawan di istana kerajaan buton. Tentunya permainan-permainan tersebut sudah langkah sekarang. Hummm!!!

Sekilas obrolan santai dengan Ibu Hj. Surah di kediamannya Kaobula mengingatkanku betapa asyiknya bermain bersama di waktu kecil. Permainan yang disebutkan dan dinostalgiakan oleh Hj. Surah persis seperti yang saya mainkan dengan teman-teman di Tolandona saat kecil. Apa yang kami obrolkan beberapa detik itu bukanlah dari yang terlihat sekarang. Maksudnya, permainan tersebut sudah dibilang punah oleh masyarakat.

Kekompakkan dan kebersamaan dalam permainan tradisional di Buton ini mampu melatih keakraban dan kebijaksanaan anak kecil, kata Hj. Surah. Kini, di zaman teknologi dengan akses mainan anak-anak yang sangat relative murah dan menarik justru berpeluang besar mengajarkan anak ke sifat individualis. Wah, seperti apa itu rekan pembaca?

Mungkin Anda kurang setuju dengan pernyataan ini. Alasan Anda bisa jadi karena orang tua kurang ngerti cara mendidik anak. Sifat permisif orang tua bisa jadi alasan mengapa permainan terkini menjadi berbahaya. Namun, apakah tidak bagus kalau anak mengetahui perkembangan teknologi dengan terarah tetapi juga terlatih secara mental melalui permainan tradisional.

Sebut saja apa yang ada di benak Anda dari permainan tradisional yang pernah dimainkan bersama teman sejawat Anda dulu! Bayangkan betapa asyiknya permainan itu dengan mengandalkan kerja tim dan saling percaya serta tanggung jawab penuh. Jika dilihat dari segi science, mungkin sulit ditemukan. Tapi, apakah permainan tradisional tersebut hanya dibuat sedemikian saja? Bukankah penemu permainan itu menyumbangkan kemampuan filosofinya?

Ajaklah adik atau keponakan kita bermain di tanah lapang atau halaman rumah kita. Pada awalnya mungkin belum menyenangkan bagi mereka. Jangan dihentikan, lakukan tiap hari, budayakanlah permainan itu. Yakin, pasti akan menjadi popular sekalipun teknologi canggih membanjiri kehidupan. Saya yakin, instrument permainan tradisional tersebut akan melatih kepribadian, ketangkasan dan apa saja yang Anda mau latih.


Sepakat dengan para Pemerhati Budaya Buton. Namun, bagi saya perlu kita diskusikan dengan praktis permainan budaya tersebut. Karena permainan-permainan tersebut akan cukup mampu menyelamatkan anak-anak dari tsunami teknologi yang kurang mendidik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK

EFEKTIVITAS PASAR DAN ORGANISASI EKSTERNAL DI KAMPUS

Namaku Ada di Buku Tamu: IKAMI Sulsel Jakarta